Virus Corona Baru di Inggris Tak Mempan Vaksin dan Menyebar Lebih Cepat, Ini Kata WHO

Virus Corona Baru di Inggris Tak Mempan Vaksin dan Menyebar Lebih Cepat, Ini Kata WHO

Inggris menemukan varian baru virus corona SARS-CoV-2 yang memicu lonjakan tajam kasus Covid-19 di negara tersebut.

Selain menyebar lebih cepat dari virus corona yang ada sebelumnya, varian baru virus corona ini kemungkinan juga tak mempan dengan vaksin Covid-19 yang saat ini tengah dikembangkan di berbagai negara.

Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock mengatakan, pihaknya telah menemukan lebih dari 1.000 kasus Covid-19 yang terinfeksi dari varian virus jenis baru ini.

Kasus akibat varian virus baru ini tersebar di 60 wilayah otoritas lokal Inggris.

Diperkirakan virus varian baru ini serupa dengan mutasi yang ditemukan di sejumlah negara dalam beberapa bulan belakangan.

”Kami telah mengidentifikasi varian baru dari virus corona yang mungkin penyebarannya lebih cepat di tenggara Inggris,” kata Matt, seperti dilansir dari The Guardian.

Matt tidak menutup kemungkinan bahwa varian baru virus ini bisa kebal terhadap vaksin Covid-19 yang akan diberikan pada pekan lalu di Inggris.

”Saya harus menekankan bahwa pada momen ini tidak menyebabkan penyakit serius atau gejala klinis baru, tapi sangat tidak mungkin mutasi ini akan gagal menanggapi vaksin, tapi kita tetap harus waspada,” tuturnya.

Penasihat kesehatan pemerintah Inggris menyebut varian mutasi baru virus corona yang menyebar di Inggris ini punya tingkat penularan lebih tinggi.

Kepala petugas medis Inggris, Chris Whitty, menyebut hal ini berdasarkan data pemodelan awal dan tingkat insiden yang meningkat pesat di selatan Inggris.

Sehingga, kelompok penasihat virus corona pemerintah Inggris, mengambil kesimpulan mutasi baru ini dapat menyebar lebih cepat.

Akibat temuan varian baru virus corona ini, pemerintah Inggris kembali menerapkan kebijakan lockdown.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan pelarangan pertemuan Natal dan toko-toko yang tidak penting harus tutup di London dan sebagian besar Inggris selatan.

Kebijakan ini diambil setelah ia memberlakukan tingkat pembatasan tingkat tiga di sejumlah wilayah

Inggris memberlakukan empat level pembatasan untuk mengatasi penularan Covid-19. Saat ini kawasan London dan Inggris selatan ada di level 3.

Pembatasan level tiga membatasi pertemuan, restoran dan bar hanya boleh melayani pesanan yang dibawa pulang, sementara toko masih diperbolehkan dibuka.

Sementara pembatasan level 4 baru mewajibkan toko-toko yang tidak esensial, penata rambut, dan tempat rekreasi dalam ruangan ditutup.

Johnson juga menyatakan rencana pelonggaran pertemuan yang sebelumnya akan dilaksanakan selama lima hari (23-27 Desember) saat Natal dibatalkan untuk area tingkat 4.

Perkumpulan keluarga tidak diperbolehkan kecuali dalam kondisi yang sangat terbatas dan tidak dilakukan di tempat umum.

Selain itu, di seluruh Inggris warga hanya diizinkan melakukan pertemuan saat Natal selama satu hari.

“Dengan sangat berat hati saya harus memberi tahu Anda bahwa kita tidak dapat melanjutkan Natal seperti yang direncanakan,” kata Johnson.

”Tidak ada alternatif yang terbuka untuk saya. Orang-orang harus mengorbankan Natal ini agar memiliki kesempatan yang lebih baik untuk melindungi kehidupan orang yang dicintai. Saya tahu seberapa besar emosi orang-orang yang diinvestasikan di sepanjang tahun ini, dan betapa pentingnya bagi kakek nenek untuk melihat cucu mereka. Tetapi ketika virus mengubah metode serangannya, kita harus mengubah metode pertahanan kita,” imbuhnya.

Di sisi lain Belanda kini juga melarang semua penerbangan penumpang dari Inggris.

Melansir AFP, larangan itu diberlakukan sejak Minggu (20/12) pukul 6 pagi waktu setempat dan akan diberlakukan hingga 1 Januari 2021.

“Mutasi infeksi virus Covid-19 beredar di Inggris. Dikatakan menyebar lebih mudah dan lebih cepat serta lebih sulit dideteksi,” kata kementerian kesehatan Belanda dalam pernyataan resminya.

Sementara itu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Sabtu (19/12) mengatakan sedang berkoordinasi erat dengan pejabat Inggris terkait varian baru virus corona Covid-19.

“Mereka (para pejabat Inggris) akan terus berbagi info dan hasil analisis serta riset mereka yang sedang berlangsung,” kata WHO melalui pernyataan sebagaimana diwartakan Reuters, Minggu (20/12).

“Kami akan memberikan informasi terbaru kepada negara-negara anggota dan publik selama kami mempelajari lebih dalam mengenai karakteristik varian virus ini dan segala implikasinya,” lanjut pernyataan itu.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menyatakan, mutasi virus corona SARS-CoV-2 merupakan hal yang harus dicermati.

Ia menilai kondisi itu bisa mempengaruhi penanggulangan pandemi.

“Adanya mutasi dalam situasi wabah virus ini adalah situasi yang lazim. Namun juga harus dicermati,” ujar Dicky.

Dicky menuturkan mutasi virus corona membuktikan bahwa kehadiran vaksin bukan menjadi jaminan atau kunci pandemi Covid-19 selesai.

Dia melihat virus corona SARS-CoV-2 seperti virus influenza yang vaksinnya terus diperbarui karena terus mengalami mutasi.

Terkait dengan kondisi itu, Dicky mengingatkan semua pihak menganut skenario terburuk.

Misalnya, dia menyebut pelaksanaaan strategi dasar 3M dan 3T harus terus dilakukan hingga keluar dari pandemi.

Dicky menambahkan pandemi Covid-19 masih akan berlangsung lama. Dia meminta semua pihak tidak mengabaikan 3M dan 3T.

Dia juga berkata vaksin adalah bagian dari salah satu solusi mengatasi pandemi.

Lebih dari itu, dia mengingatkan mutasi virus corona SARS-CoV-2 yang mengalami mutasi bisa masuk ke Indonesia.

Oleh karena itu, kehati-hatian sangat diperlukan. Misalnya, lanjut dia menerapkan 3M dan 3T.

Kemudian menjaga perbatasan hingga membaca informasi dari ahli dan media yang bisa dipercaya.

“Panik berlebih juga tidak boleh. Kita waspada bukan berarti panik,” ujar Dicky.

Sumber : lihat


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments