Sahabat Nabi Berbuka Puasa Dengan Berhubungan Intim Sama Istrinya

Salah satu kesunahan dalam berpuasa Ramadan adalah menyegerakan berbuka apabila sudah mendengar azan.

Selain itu, disunahkan juga bagi yang berpuasa itu berbuka dengan jenis makanan yang manis-manis, seperti kurma, kolak, es teh manis, dan lain sebagainya.

Namun demikian, ada cara unik berbuka puasa yang dilakukan salah satu sahabat Nabi, Abdullah bin Umar, yaitu dengan cara berhubungan intim dengan istrinya.

Imam al-Dzahabi dalam Siyar A‘lamin Nubala meriwayatkan sebuah perkataan Ibnu Umar berikut ini:

لقد أعطيت من الجماع شيئا ما أعلم أحدا أعطيه إلا أن يكون رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Aku diberikan sedikit (kenikmatan) hubungan intim yang setahuku tidak ada orang lain yang diberikan itu kecuali Rasulullah SAW.”

Artinya, libido Ibn Umar terkait hubungan intim sebagaimana diceritakannya sendiri itu memang sangat tinggi.

Karenanya, wajar saja jika sewaktu-waktu ia berbuka puasa dengan langsung berhubungan intim dengan istrinya.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan Imam at-Tabrani di dalam kitab al-Mujamul Kabir dari Muhammad ibn Sirin berikut ini:

ربما أفطر ابن عمر على الجماع

“Sering sekali ’Ibnu ‘Umar itu berbuka puasa dengan berjimak.”

Menurut Imam Ibnu al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid, asar ini memiliki sanad hasan yang dimungkinkan kebenaran informasinya. Selain itu, dalam bahasa Arab, adverbia ربما (rubbama) bisa berarti sering, dan bisa berarti terkadang, sebagaimana disebutkan dalam kitabMughnil Labib.

Namun demikian, ada kemungkinan rubbama di sini berarti ‘sering’ karena melihat perkataan ’Ibnu ‘Umar sendiri yang mengakui bahwa dirinya memiliki libido yang sangat tinggi terkait jimak.

Namun demikian, tidak ditemukan riwayat seberapa sering hal tersebut Ibnu Umar lakukan, apakah setiap hari selama bulan puasa, atau hanya beberapa kali dalam seminggu.

Terlepas dari itu, al-Qadhi Husain yang dikutip al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari mengatakan hal serupa seperti yang disebutkan di atas bahwa Ibnu Umar memiliki libido yang sangat tinggi, sehingga berbuka puasa dengan hubungan intim.

Al-Qadhi Husain menawarkan penafsiran kedua, tidak menutup kemungkinan juga ’Ibnu ‘Umar mencicipi makan-makanan juga saat berbuka puasa, baru berhubungan intim.

Wallah a‘lam.

Sumber: bincangsyariah.com


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments