Polisi Sebut Maulana Tewas karena Asma, Tapi Darah Terus Ngucur

gold investment,gold investing 2020,gold investment news,gold investment stock,gold investment companies,gold investors,gold investopedia,gold investment calculator,gold invest 2020,gold invest app,gold invest online,gold invest plan,gold invest now,gold invest reddit,gold invest price,gold invest uk,invest gold australia,invest gold and silver,gold as invest,asia gold invest,the gold investment corporation,the gold investment group,the gold investment letter,of gold investment,gold and investment risk,gold for investment purposes,gold for investment uk,gold for investors,gold invest bank,invest gold bars,invest gold bullion,invest gold bars bdo,invest gold bdo,gold bond invest,gold invest canada,gold invest calculator,gold invest company,gold invest.com,gold invest chart,gold invest corona,gold invest coins,gold invest constanta,gold invest direct,gold invest dinant,invest gold dbs,invest gold deposit scheme,gold digger invest oy,w&d gold investimentos ltda,gold invest etf,gold invest europe,how to invest gold etf funds india,gold estate invest,multi invest gold erfahrungen,eco gold invest mangalia,gold invest e confiavel,e gold investment cimb,e gold investment in hdfc bank,gold invest forum,gold invest fund,gold invest fiod,gold futures invest,gold for invest,gold form invest,sbi gold fund invest,invest gold index funds,gold invest group,invest gold how,invest gold safe haven,heera gold invest,gold invest in usa,invest gold in malaysia,invest gold in singapore,invest gold in dubai,invest gold in bank,invest gold index,should i invest gold,should i invest gold or silver,can i invest gold

Duka mendalam dirasakan keluarga mendiang Maulana Suryadi (23), korban tewas dalam aksi unjuk rasa 25 September 2019 di Slipi, Jakarta.

Keluarga merasa aneh dengan keterangan kepolisian terkait penyebab kematian Maulana yang juga berprofesi sebagai juru parkir itu.

VIVAnews menggali informasi dengan berbincang bareng tante Suryadi, Meriska Indriyani, di kediamannya Jalan Tanah Rendah III, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Ia mengaku bahwa rumahnya didatangi delapan orang polisi Kamis malam, 26 September 2019.

“Kamis, delapan orang polisi datang jam 20.00 WIB, ke rumah sini. Polisi nemuin Ibu saya atau neneknya Suryadi. Kakak saya bilang jangan keras-keras ngomong sama ibu saya, beliau ada penyakit jantung,” kata Meriska kepada VIVAnews, Jumat sore, 4 Oktober 2019.

Meriska pun menceritakan keanehan dari keterangan polisi yang menanyakan rumahnya merupakan kediaman Maulana Yusuf. Padahal, tidak ada yang namanya Maulana Yusuf.

“Apa benar di sini rumahnya Ibu Maspupah, Ibu dari Maulana Yusuf? Ibu saya menjawab tidak ada Maulana Yusuf, cucu saya Maulana Suryadi. Lalu polisi sebut, kami menemukan mayat di daerah Slipi, polisi membawanya ke Kramat Jati (RS Polri),” ujarnya.

Meriska melanjutkan ceritanya, ia heran kenapa polisi menanyakan alamat ke rumahnya. Padahal Suryadi tidak tinggal bersamanya, melainkan di Jalan Tanah Tinggi, Tanah Abang.

“Aneh tahu-tahu dikasih alamat sini. Dia cuma pegang fotokopi KTP, itu pun alamatnya bukan di sini,” jelasnya.

Setelah itu, menurut Meriska, polisi menelepon kakaknya yaitu ibu dari Suryadi, atau Maspupah. Polisi itu membawa Maspupah ke Rumah Sakit Polri, Kramat Jati.

“Lalu ditelepon kakak saya. Mereka membawa Maspupah ke RS Polri,” katanya.

Keluarga Curiga
Meriska menjelaskan, keluarga sangat kaget melihat kondisi jenazah Suryadi ketika tiba di rumah. Muka, lehernya lebam seperti habis disiksa.

Belum lagi darah keluar dari hidung dan telinga setelah dimandikan dan dikafani.

Keluarga tak yakin Suryadi meninggal karena asma atau terkena gas air mata, karena melihat kondisi darah yang tidak berhenti dan muka lebam.

“Kami tidak terima, saya aja enggak tega lihat wajah cucu saya. Apalagi keluar darah terus, sampai dikafani dan akan dikuburkan darah terus keluar,” kata nenek korban, Muriana.

Muriana menyebut, sehari setelah meninggal, dari pengakuan Maspupah ia didatangi anaknya dalam mimpi. Suryadi teriak kesakitan.

“Anak saya, atau ibunya Suryadi didatangi dalam mimpi. Aduh sakit, aduh sakit,” ujar Muriana menirukan ucapan Maspupah.

Sementara itu, Maspupah mengaku, anaknya memang meminta izin untuk demo. Suryadi memang disebut dibayar 40 ribu oleh orang tak dikenal, bahkan sempat mencium tangannya dua kali dan memijit Maspupah.

“Maulana izin ke saya, Ibu, Yadi mau ikut demo, mana tas bu. Mau ikut demo dibayar 40 ribu. Waktu itu cium tangan dua kali, mijit Ibu makan sama yang lain. Saya bilang jangan nak, tapi dia bilang enggak apa-apa Bu,” kata Maspupah.

“Polisi telepon ke saya, saya kasih alamat lengkap. Lalu saya dibawa ke RS Polri. Polisi nanya apakah ada riwayat sakit asma, enggak ada,” tambahnya.

Menurut Maspupah, ia diminta menandatangani surat bahwa Suryadi meninggal karena gas air mata dan asma. Ia juga mengaku diberi santunan.

“Ya disuruh menandatangani surat, bahwa anak saya asma dan kena gas air mata. Saya terima santunan,” ungkapnya.

Takut Autopsi
Maspupah mengaku takut jenazah Suryadi diautopsi. Ia berpikiran jika diautopsi maka organ tubuh Suryadi akan diambil.

“Keluarga menolak visum dan autopsi. Takut diambil organ tubuhnya. Ya Allah Suryadi, kenapa begini. Anaknya kecil-kecil dua orang umur empat tahun dan dua tahun,” tutur Maspupah sambil menangis.

Dia menyebut karena Suryadi punya anak yang mesti ditanggung biaya kehidupannya. Dengan kejadian ini, ia merasa bingung.

“Saya sih enggak nuntut apa-apa, saya ikhlas anak saya meninggal. Yang penting ungkap saja. Kalau anak saya dipukulin, tolong anak-anaknya Suryadi ditanggung kehidupannya,” kita dia.

Sumber: vivanews.com


Leave a Reply