Meski Hanya Lulusan SMP, Pria Asal NTT Ini Sukses Bisnis Tas Beromzet Miliaran

Pendidikan seringkali menjadi kunci kesuksesan bagi banyak orang.

Semakin seseorang punya pendidikan yang tinggi, potensi mendapatkan masa depan yang baik akan semakin besar—dan itu berarti keduanya linier.

Namun, hal itu tampaknya tak berlaku bagi Sunny Kamengmau.

Hanya mengantongi ijazah SMP, lelaki kelahiran Nusa Tenggara Timur itu menghadapi hidup yang serba penuh tantangan.

Maka akibat ketahanannya terhadap kondisi jatuh-bangun di masa-masa sulit, nasib telah membayar perjuangannya.

Kini, Sunny ialah pemilik sebuah brand tas bernama Robita. Ia menjalankan usahanya itu bersama kawannya yang merupakan seorang pengusaha kaya raya asal Jepang, Nobuyuki Kakizaki.

Dari Robita, keduanya memperoleh omzet puluhan miliar rupiah dalam setahun.

Di umur yang ke-18, Sunny melengos dari bangku SMA yang baginya menjenuhkan, memutuskan untuk tak menamatkannya.

Berbekal kenekatan, ia lalu merantau ke Bali dan mengharap kehidupan yang lebih baik.

Di Pulau Dewata itu, Sunny bekerja serabutan. Berbagai macam pekerjaan pernah ia jajal.

Ia merenovasi rumah orang kaya dan jadi buruh cuci mobil, bekerja sebagai tukang kebun, hingga menjadi satpam di sebuah hotel di Legian, Kuta. Petualangan itu ia lakoni hingga tahun 2000.

Menjadi satpam, Sunny lantas biasa bergaul dengan banyak turis mancanegara.

Dengan gajinya yang hanya Rp 50 ribu saat itu, ia membeli sebuah kamus bahasa asing dan banyak belajar dari sana, berharap itu bisa membuatnya menjalin komunikasi yang baik dengan para turis.

Semangat Sunny saat itu amat menggebu-gebu untuk mempelajari banyak hal.

Maka pada suatu hari, hal itu menghadapkannya pada nasib baik ketika bertemu dengan Nobuyuki Kakizaki, pemilik perusahaan Real Pint Inc. dari Jepang.

Saat itu, Kakizaki sedang berlibur ke Bali dan menginap di hotel tempat Sunny bekerja.

Lantaran Sunny pada saat itu telah mengantongi keterampilan dalam bahasa Jepang, persahabatannya dengan Kakizaki pun tumbuh.

Keduanya menjalin persahabatan hingga lima tahun lamanya.

Di masa-masa itu, secara sekonyong-konyong Kakizaki mengajak Sunny bekerjasama dalam sebuah bisnis: mendirikan usaha tas handmade.

Tas itu akan dipasarkan ke negeri asal Kakizaki, mengingat masyarakat Jepang saat itu lebih menggemari produk handmade daripada buatan pabrik.

Mereka menamai nama usaha itu Robita—dilatarbelakangi kesukaan Kakizaki terhadap karakter Nobita di Doraemon.

Akibat ajakan itu, Sunny tengah menjalani dua profesi sekaligus di saat yang sama: pengusaha dan satpam.

Di sela-sela waktunya menjaga hotel, ia kerap diajak Kakizaki untuk membeli barang kerajinan tangan dan aksesoris untuk dijual lagi ke Jepang. Dari sana, Sunny banyak mendapatkan pelajaran.

Untuk membesarkan Robita, Sunny dan Kakizaki berjuang amat keras bertahun-tahun.

Di tahun 2007, yakni ketika usaha mereka telah berjalan selama tak kurang dari tujuh tahun, produksi Robita mencapai 5.000 tas setiap bulannya.

Dua tahun setelahnya, Robita mempekerjakan sekitar 300 orang karyawan, setelah di awal masa pendiriannya hanya bekerja 20 orang karyawan.

Di tahun 2012, Robita kian melejit. Satu tas yang diproduksi Sunny dan Kakizaki itu dijual paling murah Rp 4 juta per biji untuk ukuran tas besar dan Rp 2 juta untuk tas kecil.

Permintaan pasarnya banyak datang dari Indonesia dan mancanegara—dan bukan hanya Jepang.

Maka dari situ, Robita kini bisa menghasilkan minimal Rp 25 miliar setahunnya untuk dua sahabat karib yang pertama kali bertemu di sebuah hotel di Legian:

Sunny Kamengmau dan Nobuyuki Kakizaki. Berkat jerih payah, keduanya kini sukses menjadi pengusaha besar.

Sumber: kumparan.com


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments