Mengapa Dulu Orang Pribumi Tidak Menggunakan Santet untuk Mengusir Penjajah?

Photo by Pasha Chusovitin on Unsplash

Artikel ini merupakan kerja sama LINE TODAY dan Quora untuk memberikan ruang diskusi yang bermanfaat. Kami juga mengajak pembaca untuk memberikan pendapat di kolom komentar.

Mengapa dulu orang pribumi tidak menggunakan santet untuk mengusir penjajah, terutama orang Belanda yang penting?

Jawaban 1

Dijawab di Quora Indonesia oleh Revi Soekatno:

Saya kira orang Indonesia memang sudah mencoba, tetapi tidak untuk mengusir penjajah secara luas, melainkan hanya pada beberapa kasus tertentu saja. Penulis Belanda Louis Couperus pernah menulis buku roman tentang fenomena ini yang ia sebut dengan istilah goena-goena dalam buku romannya De stille kracht (1900).

Santet itu membutuhkan tenaga dan biaya besar serta waktu yang lama. Apalagi efektivitasnya diragukan. Maka lebih efektif mengangkat senjata dan memberontak daripada menyantet para penjajah.

Sebab jika efektivitas santet terbukti untuk melawan penjajah, pasti sudah digunakan dalam skala besar.

Coba bayangkan Anda harus membuat ribuan boneka santet seperti ini.[1]Harus perlu berapa orang dukun?

Catatan Kaki

[1] File:Voodoo Witch Doll.jpg (https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Voodoo_Witch_Doll.jpg)

Jawaban 2

Dijawab di Quora Indonesia oleh Lukman Hakim:

Dari jawaban tersebut saya berusaha mencari kata “goena-goena” dalam berbagai koran yang terbit di masa Hindia Belanda. Sayangnya dari hasil pencarian saya belum menemukan praktik “goena-goena” yang manargetkan masyarakat keturunan Belanda sebagai korbannya. Sebagian besar koran-koran yang saya dapatkan memberitakan tentang peristiwa “goena-goena” ke sesama masyarakat pribumi. Akan tetapi, hal yang menarik dari yang saya dapatkan adalah ada masyarakat keturunan Belanda yang juga percaya “goena-goena”. Kata “goena-goena” tidak hanya merujuk ke santet tapi juga berbagai jenis kejadian yang dianggap janggal.

Ini adalah artikel tentang hujan batu yang dialami warga di Menteng Pulo dan diduga sebagai “goena-goena”.

Sumber: Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. 31–07–1930


Artikel di atas berisi tentang kasus balas dendam menggunakan “goena-goena” yang terjadi di Desa Tjiboegel.Sumber: Algemeen Handelsblad. 15–01–1931

Artikel ini memberitakan tentang akan adanya Rapat Besar di Balige oleh masyarakat Kristen Batak membahas kasus yang diduga “goena-goena”. Suami dan orang tuanya menggugat istri pertamanya karena akan melakukan “goena-goena” menggunakan makanan yang akan diberikan ke suaminya. Sang istri pertama diduga cemburu karena suaminya menikah lagi. atas saran orangtuanya, si suami menikah lagi akibat tidak dikaruniai anak dari istri pertama.

Sumber: De Sumatra post. 20–08–1936

Artikel ini tentang seorang pribumi yang ditangkap di Sawah Besar karena akan “goena-goena” kekasihnya. Ibu sang kekasih melaporkannya ke polisi.

Sumber: Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. 17–04–1909

Di Langkat, seorang pelayan dan suaminya ditangkap karena diduga akan menggunakan “goena-goena” kepada sultan. Belum diketahui motifnya tapi keduanya yang awalnya menyangkal akhirnya mengakui akan menggunakan “goena’goena.

Sumber: Bataviaasch nieuwsblad. 20–02–1929

Kasus dalam artikel ini menurut saya yang paling menarik. Bercerita tentang kasus di Kampung Bandan. Seorang perempuan bernama Naoe ditangkap karena telah melempar cabe ke wajah perempuan lain bernama Siti yang menggunakan “goena-goena” untuk merebut suami Naoe.

Sumber: Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. 05–05–1939

Dari artikel-artikel tersebut terlihat bahwa penggunaan “goena-goena” dilakukan ke sesama masyarakat biasa dan kalangan bawah. “Goena-goena” digunakan untuk balas dendam, memikat, menyakiti, atau bahkan menebar teror kepada orang-orang yang memiliki hubungan dengan pelaku.

 

Sumber: Lihat link


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments