Kisah Anak Penjaga Hutan Wanagama Yogya Bisa S3 ke Jepang, Sejak Kecil Dididik Prihatin

YOGYAKARTA, Tukiyat (51) salah satu penjaga Hutan Wanagama, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, tak pernah bermimpi memiliki anak bisa bersekolah sampai S3 di Jepang.

Sebagai seorang aparat sipil negara (ASN) yang belum lama dilantik setelah puluhan tahun mengabdi, persoalan ekonomi menjadi masalah utama.

Namun, hal itu bisa dipatahkan anak semata wayangnya, Sawitri, yang saat ini hampir menyelesaikan studi strata tiga atau S3 di Universitas Tsukuba Jepang dan akan selesai menjelang akhir tahun ini.

‘Saya bekerja sebagai penjaga hutan Wanagama tepatnya bagian pembibitan. Saya bekerja sejak tahun 1987 dan baru diangkat CPNS tahun 2007,’ kata Tukiyat membuka pembicaraan melalui sambungan telepon Kamis (18/6/2020).

Dengan penuh bangga, Tukiyat menceritakan anaknya yang saat ini masih kuliah di Jepang.

Sejak kecil, bahkan sebelum TK, dirinya sudah mengajarkan kesederhanaan dan kedisiplinan perempuan yang kini berusia 26 tahun itu.

Sejak kecil saat ikut arisan atau kumpul dengan masyarakat di sekitar Kalurahan Banaran, selalu diajak. Saat itu selalu diarahkan untuk menghormati orang yang lebih tua.

Memasuki TK, ia mengantar putrinya mendaftar. Hari kedua masuk sekolah, Sawitri sudah menolak untuk diantar.

Bahkan, saat hari ketiga sempat tidak bangun, gadis kecil sempat disiram air. Sejak saat itu, Sawitri mulai biasa bangun sendiri dan berangkat ke sekolah.

Sawitri berjalan kaki kian jauh ketika dirinya bersekolah di SD Banaran 3, SMP 4 Playen, dan SMA 1 Wonosari.

‘Saat SMA itu dia jalan kaki dari sini (Wanagama) sampai perempatan Gading (kurang lebih 3 km) lalu ngebis (naik bis), Kalau kuliah sudah kos,’ ucap Tukiyat.

‘Hingga SMA itu uang sakunya untuk jajan ketika pas olah raga saja,’ tambah dia.

Dia menceritakan, saat sang putri lulus SMA, sebagai seorang ASN yang berpenghasilan tak seberapa tak ada niat Tukiyat untuk menyekolahkan anaknya hingga ke pergeruan tinggi.

Namun, Sawitri memberanikan diri berbicara ingin melanjutkan kuliah kepada ayahnya.

Tukiyat disarankan salah satu dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) yang biasa mengurusi hutan Wanagama agar Sawitri mendaftar ke UGM.

Pertama kali mendaftar, putri pasangan Tukiyat dan Sugiyem gagal. Saat mendaftar kedua, Sawitri lolos dan mendapatkan beasiswa.

Perempuan tersebut diterima di Fakultas Kehutanan UGM pada 2011.

Selama S1 pun biaya yang dikeluarkannya cukup minim, hanya Rp 100.000 per bulan untuk biaya hidup di Yogyakarta.

Sawitri biasa makan sehari sekali dan puasa Senin dan Kamis.

Akhirnya, jenjang S1 diselesaikan dalam waktu 3,5 tahun.

Selesai S1, Tukiyat berniat menghentikan studi anaknya.

Namun, ia lantas didorong dosen UGM agar Sawitri melanjutkan S2 di almamaternya. Sawitri pun melanjutkan studinya dengan program beasiswa.

‘S2 juga di Kehutanan UGM. Satu tahun delapan bulan Sawitri lulus S2,’ ucap Tukiyat.

Kemudian, Sawitri melanjutkan studi S3 pada 2017 di Universitas Tsukuba, Jepang. Ia mengambil bidang kehutanan.

‘Sejak kecil sudah terbiasa puasa Senin dan Kamis, selain itu saya ajarkan sopan santun dan prihatin,’ ucap dia.

Rencananya, pada bulan September 2020, Sawitri sudah pulang ke rumah. Tukiyat berharap putrinya bisa bekerja dengan penghasilan tetap dan menjadi panutan.

‘Cita-citanya jadi dosen, Pesannya ke anak, jujur adalah utama. Lakukan apapun yang baik dengan rajin, bersikaplah sopan kepada siapa saja,’ kata Tukiyat.


Leave a Reply