Dipercaya Masih Hidup, Ini Kisah Nabi Ilyas Bertahan dalam Kemarau Panjang


ADA beberapa orang nabi yang dipercayai masih hidup hingga kini. Salah satunya adalah Nabi Ilyas. Kendati kebenaran terkait ‘apakah beliau masih hidup hingga saat ini?’ masih jadi misteri, namun yang pasti beliau adalah salah satu dari 25 nabi yang wajib diimani.

Nama nabi Ilyas sendiri disebut dalam al-Qur’an sebanyak empat kali, yaitu di Surat al-An’am (ayat 85) dan ash-Shaaffaat (ayat 123, 129, dan 130). Sedangkan, kisah tentang perjuangan Nabi Ilyas dalam memperingatkan kaumnya termuat dalam surat ash-Shaaffaat ayat 124 hingga 128. Memang, tidak banyak ayat yang menceritakan tentang Nabi Ilyas. Namun, keberadaannya sebagai Rasul Allah sangat jelas disebutkan dalam surat ash-Shaaffaat ayat 123 tersebut.

Siapakah Nabi Ilyas?

Nabi Ilyas merupakan putra Yasin bin Fanhash. Fanhash sendiri merupakan butra Aizar bin Harun. Dengan kata lain, Nabi Ilyas merupakan keturuan keempat dari Nabi Harun As. Beliau diutus Allah ke dunia untuk memperbaiki akidah kaum Israil di negeri Baalbek yang terletak di daratan Libanon.

Bagaimana kisahnya?

Nabi Ilyas terlahir di tengah-tengah Bani Israil yang menyembah berhala bernama Baal. Sebagai penguasa tertinggi negeri itu, Raja Ahab yang kejam membangun patung Baal besar di tengah kota untuk dijadikan sebagai pusat penyembahan rakyatnya. Melihat hal ini, Nabi Ilyas yang sudah mendapatkan wahyu untuk meluruskan jalan kaumnya, segera mendatangi Raja Ahab dan mengatakan bahwa jika Raja Ahab tidak segera bertaubat dengan menghancurkan semua berhala yang ada, maka Allah akan mendatangkan malapetaka berupa musim kemarau selama tiga tahun. Mendengar hal itu, Raja Ahab memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Nabi Ilyas.

Namun, nyatanya apa yang diucapkan Nabi Ilyas terbukti benar. Kemarau panjang datang. Kekeringan dan kelaparan melanda di mana-mana. Banyak orang yang mati, begitu juga dengan hewan-hewan ternak. Bahkan, tanaman yang awalnya subur kini kering tak memberikan hasil panen.

Saat kemarau panjang datang, Allah sudah memerintahkan Nabi Ilyas untuk bersembunyi di Sungai Kerkit. Di sungai ini, Nabi Ilyas dapat memperoleh minum. Sedangkan, untuk makanan, Allah sudah mengirimkan seekor burung untuk membawakannya makanan setiap pagi dan sore. Sehingga, meskipun negeri dilanda kekeringan dan kelaparan, Nabi Ilyas tetap terjamin kebutuhan makan dan minumnya.

Saat Sungai Kerkit juga mengalami kekeringan, Nabi Ilyas yang bersembunyi di dekatnya pun menjadi panik. Belum lagi prajurit yang masih melakukan pengejaran kepadanya. Oleh karena itu, ia pun berlari dan bertemu dengan keluarga yang baik. Salah satu anggota keluarga tersebut, Ilyasa, mengalami sakit yang sangat parah. Karena sudah menolong, Nabi Ilyas berusaha memohonkan kesembuhan atas Ilyasa kepada Allah. Dan, benar saja, Ilyasa yang di kemudian hari menjadi sahabat sekaligus penerus kenabian Nabi Ilyas.

Di tengah kemaru panjang, Nabi Ilyas melihat seorang nenek yang sedang membawa sedikit air dan gandu untuk makan anaknya. Ia kemudian meminta nenek tersebut untuk membawa air dan gandum tersebut untuknya. Ia berjanji gandum yang ada dalam mangkuk tersebut akan terus ada meskipun sudah dimakan atas kuasa Allah. Janji tersebut memang menjadi kenyataan, namun sang anak tiba-tiba meninggal. Nabi Ilyas kemudian memohon kepada Allah untuk menghidupkan kembali anak tersebut.

Bencana kemarau panjang yang melanda akhirnya membuat Bani Israel meminta maaf, mohon ampun, dan bertaubat kepada Allah. Mereka meminta Nabi Ilyas untuk memintakan hujan kepada Allah. Dan, atas seijin Allah, tak berapa lama setelah Nabi Ilyas berdoa, hujan pun datang di negeri tersebut. Sayangnya, mereka kembali terlena dan menyembah berhala hingga Allah mengirimkan azab yang kedua kalinya. []



Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Close