Cerita Ayana Moon Berpuasa dengan Adiknya yang Juga Mualaf Hingga Mengenang Ramadan di Malaysia

Artikel ini merupakan kolaborasi LINE TODAY dengan Ayana Moon, seorang hijaber dari Korea, untuk membagikan cerita tentang kehidupan sehari-hari, pengalaman pribadi, Islam di Korea, sampai kehidupan Ramadan di Indonesia.

Assalamualaikum Wr Wb

Annyeonghaseyo, selamat kembali lagi ke Cerita Ramadan Ayana Moon!

Tak terasa ya hari ini sudah hari ke-3 Ramadan. Karena kesibukan sekolah dan pekerjaan, aku menjalani puasa, sahur, hingga berbuka di rumah saja. Rencananya, adikku Aydin memutuskan untuk datang ke Indonesia di bulan Ramadan ini, namun karena lengannya terluka saat belajar skateboard, jadi dia masih dalam pemulihan di Korea.

Meski Aydin sudah lulus SMA dan kini beranjak dewasa, rasanya lucu ketika ia masih terluka tak jauh beda dengan dirinya ketika masih kecil. Di bulan Ramadan ini, Aydin mengatakan bahwa dia memulai puasa terlambat karena harus minum obat untuk mengobati cedera.

Awalnya aku ingin menghabiskan Ramadan dengan beribadah, membaca Al-quran, dan coba memasak bersama Aydin, namun sepertinya dia baru bisa datang di akhir April atau bulan Mei besok. Jadi, sampai saat ini aku masih sahur dan buka puasa sendirian, deh.

Sejauh ini, aku pernah menjalani Ramadan di tiga negara, yaitu Korea, Malaysia, dan Indonesia. Aku menjalani Ramadan di Korea saat mulai menjadi mualaf ketika SMA dan di tahun lalu, ketika pandemi corona mulai menyebar, membuatku sulit untuk datang berkunjung di Indonesia.

Ketika SMA, aku teringat kesulitan ketika menjalankan puasa sendirian di tengah kegiatan sekolah. Namun, aku senang tahun lalu bisa menghabiskan dengan adikku. Saat itu karena berusaha memasak menu buka puasa enak, kami malah melewatkan waktu buka puasa. Jadi kami berbuka dengan makanan yang ada sambil menyeselesaikan masakan.

Di Korea sendiri, cukup jarang orang yang berbuka dengan kurma. Namun aku membeli beberapa jenis kurma untuk Aydin, yang belum terlalu mengenal kurma dan untuk menemukan jenis kurma yang disukai Aydin.

Karena aku seorang Muslim pemula dan adikku yang masih ‘bayi’ Muslim yang masih sangat baru, kami tak terlalu banyak melakukan apa-apa selama Ramadan kemarin. Namun, Alhamdulillah puasa tahun lalu bersama Aydin sangat berkesan bagiku. Secara umum, Muslim di Korea sangat sedikit, jadi tidak ada orang yang tahu tentang puasa.

Ramadan yang paling berkesan bagiku adalah Ramadan pertama yang kuhabiskan di Malaysia. Bagiku yang hanya tinggal di negara non-Islam, Ramadan pertama rasanya sangat mempesona karena mayoritas masyarakatnya melakukan puasa, buka puasa, hingga sahur bersama, karena di Korea sendiri hanya ada sedikit aktivitas yang dilakukan sebagian besar orang bersama-sama.

Ketika melihat anak-anak memegang erat tangan ibu mereka, atau orang dewasa yang datang bersama orang tua yang sudah lanjut usia pergi ke masjid, aku merasa iri dan tersentuh dengan fakta keluarga dapat bersatu dalam agama Islam.

Di dunia yang makin sulit untuk mengirimkan pesan teks WhatsApp kepada orang tua dua kali sehari atau menelepon setidaknya seminggu sekali di tengah perkembangan masyarakat modern, kegiatan religius salah satunya yakni dengan berpuasa selama tiga puluh hari penuh, berbagi, dan berdoa untuk keluarga dan orang yang dicintai dalam nama Allah SWT., merupakan hal yang sangat berharga dan diperlukan agar kita makin menjadi manusia yang berkembang.

Terkadang, aku terpikirkan diriku yang telah menjadi nenek-nenek, menggandeng tangan cucu-cucuku pergi ke masjid. Itu akan menjadi pertama kalinya aku pergi beribadah yang diikuti banyak orang dan hal itu sangat menarik sekaligus mengharukan.

Meski sering menggunakan kata ‘Brother’ dan ‘Sister’, namun kata tersebut sebenarnya canggung untukku apalagi aku menyebutkannya kepada orang yang tidak memiliki ikatan saudara.

Namun ketika pertama datang di Malaysia, MasyaAllah, aku sangat merasa terharu. Meski berpenampilan dan berbicara dengan bahasa berbeda, dan mereka adalah orang yang pertama kali baru kutemui, namun aku disambut seperti bagian dari mereka. Hingga sekarang, itu adalah pengalaman luar biasa yang membuatku terharu.

Di Malaysia, saya ingat banyak berkunjung dalam ‘open house.’ Di sana, aku tinggal bersama Farah, yang sudah seperti kakak bagiku, namun karena kesibukan ada kalanya aku harus menjalani puasa sendirian.

Open house terkadang dilakukan di restoran, namun biasanya teman yang tinggal di bungalow menyiapkan beberapa hidangan seperti nasi, ayam, dan bihun di halaman kecil. Melakukan open house sambil berbagi makan malam dengan tetangga lain merupakan budaya yang sangat indah.

Bahkan saat menulis ini aku masih merindukan waktu itu. Beda dengan di Malaysia, open house di Korea digambarkan sebagai pesta mewah meski hanya ‘kecil-kecilan’ yang hanya diikuti keluarga dan kerabat dekat saja.

Penasaran dengan pengalamanku berpuasa di Indonesia? Tentu ada banyak kenangan tak terlupakan di Indonesia, terutama tentang lebaran pertamaku. Ceritanya di Indonesia akan sedikit lebih panjang, jadi akan kutulis besok, ya! Alhamdulillah di puasa hari ke-3 ini kita bisa menyelesaikannya dengan baik^^ Selamat berbuka.

Ramadhan Kareem ~

Sumber: Lihat link


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments