Bulan Purnama Rusa Super Hiasi Langit Indonesia Malam Ini, Catat Waktunya

Sebuah pesawat komersial terbang saat Bulan Purnama Stroberi Super muncul di belakang Menara California yang berlokasi di Balboa Park, San Diego, California, AS, pada 14 Juni 2022. Foto: Mike Blake/REUTERS

Fenomena langka Bulan Purnama Rusa Super (Full Buck Supermoon) akan menghiasi langit pada Rabu (13/7) malam ini hingga Kamis (14/7) dini hari. Masyarakat Indonesia bakal bisa mengamatinya secara langsung tanpa perlu alat bantu tambahan.

Menurut Andi Pangerang, peneliti di Pusat Sains dan Antariksa di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bulan Purnama Rusa Super dapat diamati setelah maghrib di semua wilayah Indonesia. Puncaknya terjadi pada Kamis (14/7) pukul 01.57 WIB atau 02.57 WITA atau 03.57 WIT.

Secara umum, Bulan terbit dari arah Tenggara 16-32 menit sebelum Matahari terbenam Rabu (13/7) dan berada di atas ufuk selama 12 jam 8 menit (Sabang) hingga 13 jam 16 menit (Rote Ndao), kemudian terbenam di arah Barat Daya 15-27 menit setelah Matahari terbit keesokan harinya Kamis (14/7).– Andi Pangerang, peneliti di Pusat Sains dan Antariksa LAPAN-BRIN –

Untuk detail kota Indonesia dan durasi waktu fenomena Bulan Purnama Rusa Super hiasi langit Indonesia bisa kamu lihat di bawah ini.

Daftar Kota Indonesia dan Waktu Bulan Purnama Rusa Super

Tidak ada alat apa pun untuk bisa menyaksikan fenomena astronomi Bulan Purnama Rusa Super. Kamu cukup mengarahkan pandangan sesuai arah terbit hingga terbenamnya Bulan pada waktu terbit hingga terbenam Bulan yang telah ditentukan sebelumnya.

Jika ingin mengabadikannya dalam bentuk foto atau rekaman video, kamu bisa menggunakan teleskop, binokuler, atau monokuler yang terhubung dengan kamera HP ( handphone) atau kamera CCD (Charge Coupled Device) yang tersambung ke komputer atau laptop.

Bulan Purnama Stroberi Super yang dikenal sebagai “Full Strawberry Supermoon” muncul di langit Frankfurt, Jerman, pada 14 Juni 2022. Foto: Kai Pfaffenbach/REUTERS

Apa itu Bulan Purnama Rusa Super?

Bulan Purnama Rusa Super bukan berarti akan ada rusa terbang di langit atau Bulan bakal menyerupai rusa. Istilah tersebut muncul pertama kali di The Farmer's Almanac (Almanak Petani Amerika), dengan penamaannya berdasarkan rusa jantan muda yang biasanya mulai tumbuh tanduk di bulan Juli.

Sebelumnya pada 14 Juni 2022 lalu, ada fenomena serupa bernama Bulan Purnama Stroberi Super (Full Strawberry Supermoon). Penamaannya berdasarkan musim panennya buah stroberi yang umum terjadi di bulan Juni.

Kedua peristiwa menjadi istimewa karena Bulan Purnama Stroberi dan Bulan Purnama Rusa Super kali ini bertepatan dengan Bulan Purnama Super (Full Supermoon) atau secara teknis disebut Bulan Purnama Perige (Perigeal Full Moon). Ditambah, ada Bulan Baru Stroberi bertepatan dengan Bulan Baru Mitro (New Micromoon) atau teknisnya disebut Bulan Baru Apoge (Apogeal New Moon).

Momen semakin istimewa karena Bulan Baru Mikro kali ini diapit oleh dua Bulan Purnama Super yang terjadi pada dua bulan terturut-turut.

Fenomena serupa terakhir kali terjadi pada 2004 dan 2013 lalu, sehingga peristiwa ini terjadi setiap sembilan tahun sekali. Fenomena yang sama akan muncul lagi pada 2031 dan 2040 mendatang.

Bulan Purnama Stroberi Super, Bulan Baru Mikro, dan Bulan Purnama Rusa Super berturut pada 14 Juni, 29 Juni, dan 14 Juli 2022. Foto: Dok. LAPAN

Apa dampak Bulan Purnama Rusa Super bagi Bumi?

Bulan Purnama Super artinya Bulan sedang berada di jarak terdekat dengan Bumi ( perigee), sehingga membuatnya tampil sedikit lebih besar dari biasanya. Sementara Bulan Mikro adalah sebaliknya, bulan berada di titik terjauh sehingga tampil lebih kecil.

Soal Bulan Purnama Rusa Super yang akan muncul malam ini, jaraknya dengan Bumi mencapai 357.418 km.

Bulan Purnama, seperti Bulan Purnama Rusa Super, dapat menyebabkan pasang laut yang lebih tinggi dari hari biasanya. Pasang laut ini disebut pasang purnama.

‘Ini karena konfigurasi Matahari-Bumi-Bulan (ataupun Matahari-Bulan-Bumi) yang segaris dan mengakibatkan masing-masing gaya diferensial (gaya pasang surut) yang ditimbulkan oleh Bulan dan Matahari memiliki arah yang sama,' tambah Andi. ‘Arah pada gaya diferensial berjumlah sepasang, menghadap/searah dan membelakangi/berlawanan arah terhadap objek yang menimbulkan gaya tersebut.'


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Close
Open
×
x