Bharada E Beri Tembakan Terakhir ke Kepala Brigadir J dari Jarak 2 Meter

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah mengantongi pengakuan Bharada E atau Richard Eliezer yang menembak Brigadir J dengan jarak dekat, saat insiden berdarah di rumah mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo.

Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik menyebut Bharada E menembak Brigadir J dari dua jarak yang berbeda. Pertama, dari jarak enam meter. Kedua, dari jarak dua meter menyasar ke kepala Brigadir J.

“Iya, itu pertama sekitar enam meter, tapi ketika terakhir dia menembak Josua (Brigadir J) itu jaraknya dua meter bagian kepala,” ucap Taufan saat dihubungi, Sabtu (6/8).

Kendati demikian, Taufan mengatakan penembakan itu baru pengakuan Bharada E. Menurutnya, pengakuan itu belum bisa menyimpulkan peristiwa yang sesungguhnya.

“Iya, itu pengakuan dia tapi saya bilang enggak bisa kita sebagai penyelidik simpulkan itu. Bahwa sekarang penyidik jadikan dia tersangka tapi kan penyidik akan cari barang bukti,” ujarnya.

Taufan menjelaskan proses pembuktian pembunuhan terhadap Brigadir J akan ditentukan saat di pengadilan.

“Kalau dia menemukan barbuk (barang bukti) pendukung lain yang semakin memastikan, ya bawa ke pengadilan. Hakim nanti akan menguji bener enggak itu kan, tapi untuk mentersangkakannya memang wajar,” ucapnya.

Sebagai informasi, Komnas HAM telah merampungkan pemeriksaan terhadap seluruh ajudan atau adc Irjen Pol Ferdy Sambo yang berjumlah tujuh orang termasuk Bharada E, Bripka R, dan Brigadir D.

Dalam pemeriksaan, Komnas HAM berhasil mengantongi keterangan dari para ajudan, termasuk juga sejumlah asisten rumah tangga (ART).

Sampai saat ini, Komnas HAM telah melangsungkan pemeriksaan terhadap Dokter Forensik terkait hasil autopsi dan Siber Bareskrim Polri mengenai Digital Forensik. Sementara untuk pekan depan pada Rabu (10/8), telah dijadwalkan pemeriksaan terhadap Puslabfor Polri terkait hasil uji balistik.

Luka Jarak Dekat

Sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah mengantongi beberapa bukti insiden penembakan terhadap Brigadir J. Salah satunya, soal karakteristik luka tembak yang berasal dari jarak dekat.

“Kalau dari karakter luka, jaraknya memang tidak terlalu jauh. Tetapi ada beberapa karakter jarak yang berbeda-beda. Itu dari hasil pendalaman kami,” kata Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam kepada wartawan, Selasa (26/7).

Selain itu, Anam juga telah mendapatkan penjelasan dari kepolisian bahwa ada proyektil yang bersarang di tubuh Brigadir J. Hal itu berdasarkan hasil tujuh jumlah luka dari total lima proyektil yang dilesatkan Bharada E.

“Ada pertanyaan, kenapa kok jumlah lukanya masuk dan keluar berbeda? Jumlah luka masuk dan keluar berbeda karena memang ada yang masuk dan keluarnya memang pelurunya masih bersarang di tubuh. Sehingga jumlahnya berbeda,” ujar dia.

Keterangan perihal luka di tubuh Brigadir J itu, lanjut Anam, telah didapat dari hasil pemeriksaan terhadap tim forensik yang dipimpin Kapusdokkes Polri, Irjen Pol Asep Hendradiana yang berlangsung, Senin (25/7).

Anam mengatakan pihaknya mendapatkan laporan dokumen mulai dari luka jenazah dari sesudah maupun sebelum autopsi. Dari penampakan sejumlah luka tembak di tubuh Brigadir J yang dikonfirmasi dengan keterangan keluarga.

“Kaki, bandingkan foto lebam yang pas hari minggu dengan foto jenazah yang diotopsi. Artinya angka kematian masih sangat pendek, itu kelihatan sekali. Jadi itu kunci dalam konteks autopsi adalah melibat jenazah sebelum di autopsi,” ucapnya.

“Dan itu kami sudah lihat dengan detail, dan sangat mendalam. Ditunjukan bagaimana cara kerjanya dan pakai alat apa dan sebagainya, termasuk kami juga ditunjukan karena itu foto ya. Kameranya pakai kamera profesional yang memang untuk kerja-kerja forensik, pasti hasilnya berbeda,” tambah dia. [tin]

Sumber: Lihat


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Close
Open
×
x