Benarkah Persaksian Orang Hidup Atas Kebaikan Mayit akan Meringankan Siksa Kubur?

gold investment,gold investing 2020,gold investment news,gold investment stock,gold investment companies,gold investors,gold investopedia,gold investment calculator,gold invest 2020,gold invest app,gold invest online,gold invest plan,gold invest now,gold invest reddit,gold invest price,gold invest uk,invest gold australia,invest gold and silver,gold as invest,asia gold invest,the gold investment corporation,the gold investment group,the gold investment letter,of gold investment,gold and investment risk,gold for investment purposes,gold for investment uk,gold for investors,gold invest bank,invest gold bars,invest gold bullion,invest gold bars bdo,invest gold bdo,gold bond invest,gold invest canada,gold invest calculator,gold invest company,gold invest.com,gold invest chart,gold invest corona,gold invest coins,gold invest constanta,gold invest direct,gold invest dinant,invest gold dbs,invest gold deposit scheme,gold digger invest oy,w&d gold investimentos ltda,gold invest etf,gold invest europe,how to invest gold etf funds india,gold estate invest,multi invest gold erfahrungen,eco gold invest mangalia,gold invest e confiavel,e gold investment cimb,e gold investment in hdfc bank,gold invest forum,gold invest fund,gold invest fiod,gold futures invest,gold for invest,gold form invest,sbi gold fund invest,invest gold index funds,gold invest group,invest gold how,invest gold safe haven,heera gold invest,gold invest in usa,invest gold in malaysia,invest gold in singapore,invest gold in dubai,invest gold in bank,invest gold index,should i invest gold,should i invest gold or silver,can i invest gold

Alam kubur merupakan persinggahan ketiga yang akan dilewati umat manusia sebelum akhirnya memasuki alam akhirat, surga dan neraka.

Sering kita lihat ketika melayat seorang ustad akan berkata “Apakah Fulan seorang yang baik?” atau tiba-tiba ketika melayat seseorang ada saja yang bilang, “saya bersaksi bahwa fulan seseorang yang baik semasa hidupnya.”

Nah, pertanyaannya apakah persaksian tersebut akan membantu meringankan siksa kubur sang mayit?

Imam As-Suyuthi dalam kitab Lubbabul Hadis dalam Bab Keutamaan Mengingat Alam Kubur, menyebutkan sebuah hadis berikut ini:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا وُضِعَ فِى الْقَبْرِ وَأُقْعِدَ وَقَالَ أهْلُهُ وَأَقْرِبَاؤُهُ وَأَحِبَّاؤُهُ وَأَبْنَاؤُهُ وَاسَيِّدَاهُ وَاشَرِيْفَاهُ وَاأمِيْرَاهُ قَالَ لَهُ الْمُلْكُ اسْمَعْ مَا يَقُوْلُوْنَ أَنْتَ كُنْتَ سَيِّدًا وَأَنْتَ شَرِيْفًا وَأَنْتَ أمِيْرًا قَالَ الْمَيِّتُ: يَا لَيْتَهُمْ لَمْ يَكُوْنُوْا فَيَضْغَطُهُ ضَغْطَةً تَخْتَلِفُ بِهَا أَضْلَاعُهُ}

Nabi saw. bersabda, “Sungguh seorang hamba yang mukmin jika diletakkan di dalam kuburan dan didudukkan, keluarganya, kerabat-kerabatnya, orang-orang yang dikasihinya, anak-anaknya, tuan-tuannya, orang-orang dimuliakannya, dan pemimpin-pemimpinnya membicarakan tentangnya. Malaikat berkata kepadanya, “Dengarkan apa yang mereka katakan, kamu dulu adalah seorang junjungan, kamu seorang yang mulia, dan kamu adalah seorang pemimpin.” Mayyit itu pun berkata, ‘Seandainya mereka tidak mendapatkan (seperti yang mereka bicarakan), maka ia (mayit itu) akan dihimpit dengan himpitan yang dapat memecah tulang-tulang rusuknya.” (HR. Suyuthi)

Namun berdasarkan penelusuran Annisa Nurul Hasanah, seorang Peneliti el-Bukhari Institute menyatakan bahwa hadits ini belum ditemukan sanad dan perawinya.

Begitupun dalam penjelasan Imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah (memberi penjelasan dan penafsiran) hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Rata-rata hadis yang tercatat dalam kitab Lubab al-Hadits ini memang tidak dicantumkan sanadnya.

Tapi menurut pernyataan Imam As-Suyuthi, hadis-hadis dalam kitabnya ini memiliki derajat yang shahih.

Meski akhirnya pendapat itu disanggah oleh Imam Nawawi yang menyatakan bahwa ternyata tidak semuanya shahih ada pula yang dhaif.

Namun terdapat hadis lain yang semakna dengan hadis tersebut di atas. Yaitu hadis yang disampaikan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahih-nya kiranya cukup menjadi dasar untuk hal ini.

Sebuah hadits yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik Ra menuturkan:

مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَجَبَتْ» ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: «وَجَبَتْ» فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: «هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ

Artinya:
“Sahabat Anas bin Malik berkata, orang-orang lewat membawa satu jenazah, mereka memujinya dengan kebaikan. Maka Rasulullah bersabda, “Wajabat.” Kemudian lewat lagi orang-orang membawa satu jenazah, mereka mencelanya dengan kejelekan. Maka Rasulullah bersabda, “Wajabat.” Sahabat Umar bin Khathab berkata, “Apa yang wajib, ya Rasul?” Rasulullah bersabda, “Jenazah ini yang kalian puji dengan kebaikan wajib baginya surga. Dan orang ini yang kalian cela dengan kejelekan wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksinya Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari)

Hadis shahih ini membenarkan bahwa siksa kubur dapat memperingan siksa kubur seseorang.

Jika dalam riwayat Imam Suyuthi sang mayit akan dihimpit dengan tanah jika bukan karena persaksian baik para orang hidup.

Maka Hadis riwayat Imam Bukhari ini secara umum juga menyatakan hal yang sama bahwa karena pujian baik dan kesaksian orang hidup maka sang penghuni kubur berhak surga sebaiknya jika celaan yang didapatkannya maka baginya neraka.

Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, ketika orang-orang untuk memuji kebaikan orang yang meninggal menunjukkan bahwa orang tersebut termasuk ahli surga, baik pada kenyataannya perilakunya sesuai dengan pujian tersebut maupun tidak.

Ilham yang diberikan Allah kepada orang-orang untuk memberikan kesaksian baik pada si mayit bisa dijadikan tanda terealisasinya kehendak tersebut.

Di samping itu, hadis ini juga menunjukkan bahwa setiap orang hendaknya menjalin hubungan yang baik dengan sesama saat masih hidup dan jangan sampai menyakiti dan mendzalimi orang lain sebab kesalahan terhadap manusia tidak akan dimaafkan oleh Allah sebelum yang bersangkutan mendapatkan maaf dari orang yang didzaliminya. Wallahu’alam.

Sumber: bincangsyariah.com


Leave a Reply