Anies di Depan Rizieq: Langkah yang Dilakukan Tak Selalu Disambut di Kota ini

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan terima kasih telah diberikan dukungan oleh eks pentolan FPI Rizieq Shihab. Hal itu disampaikan kepada Rizieq saat maulid Nabi Muhammad di Petamburan, Jakarta Pusat, Sabtu (7/10). Anies akan segera menyelesaikan masa jabatannya sebagai gubernur pada 16 Oktober mendatang.

“Izinkan juga saya dalam kesempatan ini mengungkapkan rasa terima kasih atas doa, atas dukungan, atas perhatian yang diberikan selama kami bertugas. Habib Rizieq, minggu depan saya selesai bertugas di Jakarta. Doakan saya bisa husnul khotimah,” ujar Anies dilihat dari tayangan YouTube pada Sabtu (8/10).

Anies menuturkan, selama memimpin Jakarta sudah berupaya menghadirkan keadilan sosial. Namun, apa yang ia telah kerjakan di ibu kota tidak selalu mendapatkan respons baik oleh berbagai kekuatan di Jakarta.

“Dan langkah yang dilakukan tidak selalu disambut gegap gempita dari berbagai kekuatan yang ada di kota ini, tapi InsyaAllah kita selalu mengandalkan, satu satunya andalan kita hanya Allah. Jalankan semua walaupun menghadapi tantangan yang berat, tawakal ke Allah, dibukakan jalannya,” ujarnya.

Ia mengaku diberikan jalan ketika merasa yang dilaluinya buntu. Hal itu berkat kekuatan doa. Anies berharap apa yang ia telah kerjakan di Jakarta bisa dipertahankan.

“InsyaAllah apa yang sudah dikerjakan di Jakarta mudah-mudahan bisa dipertahankan, suasana ketenangan, keteduhan, kedamaian ini bisa kita jalankan. Tapi saya sering sampaikan, tidak ada kedamaian, keteduhan, dalam keadaan suasana ketidakadilan. Tanpa keadilan tidak mungkin ada kedamaian dan keteduhan. Yang namanya persatuan, kedamaian, syaratnya adalah keadilan, dan itulah yang coba kita terapkan di sini,” ujarnya.

Ia pun mencontohkan, sebagian masyarakat miskin di Jakarta terancam tidak punya rumah karena harga tanah yang terus naik.

Hal itu disebabkan pajak bumi bangunan yang naik terus. Sehingga warga miskin tersingkir, dan hanya orang punya uang yang menetap.

“Pernah Jakarta PBB naik 500 persen, itu artinya kota ini, pemerintahnya, membuat yang miskin harus pindah dari dalam Jakarta. Yang sosial-ekonominya rendah tidak akan mampu bayar pajak. Keluar satu-satu, satu-satu. Yang masuk siapa? Yang punya uang. Itu enggak pernah dianggap masalah di kota ini,” ujar Anies.

Misalnya daerah Kebon Kacang mulai menjadi tempat elite. PBBnya sudah melonjak jauh. “Kalau tidak punya cukup pendapatan tidak mungkin cukup untuk bayar pajak di tempat ini. Apalagi kalau tinggalnya di kawasan-kawasan lain. Ada beberapa orang satu tahun itu bayar pajak sampai 100 juta, 180 juta, 60 juta, 40 juta, yang angkanya angka fantastis,” katanya.

Namun, Anies mengklaim 85 persen rumah di Jakarta telah bebas PBB. Hanya 15 persen yang membayar yaitu orang-orang dengan ekonominya kuat. “Supaya kita yang mayoritas ekonominya tidak kuat, tidak harus terusir dari tanah ini,” imbuhnya.

“Saya titip pada semuanya, tolong ini dijagain, kalau ini dikembalikan dinaikkan luar biasa, maka yang terjadi pengosongan kota dari mereka yang ekonominya rendah,” kata Anies. [rhm]

Sumber: Lihat


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Close
Open
×
x