60 Persen Produk Nestle Disebut Tidak Sehat, Ini Kata Nestle, BPOM, dan BPKN

Produk Nestle

Nestle
Produk Nestle

Topik atau kata Nestle menjadi salah satu trending topic di Twitter hingga Kamis (17/6/2021) malam.

Setidaknya terdapat 12.600 twit terkait dengan Nestle.

Sebelumnya, Nestle juga sempat ramai diperbincangkan karena 60 persen produknya disebutkan tidak sehat.

Hal itu berdasarkan laporan dari Financial Times, 30 Mei 2021.

Diberitakan Kompas.com, 8 Juni 2021, menurut manajemen perusahaan, laporan tersebut didasarkan pada analisis yang mencakup hanya sekitar setengah dari portofolio penjualan global produk-produk Nestle.

“Kami merujuk pada beberapa artikel di media yang mempertanyakan profil gizi produk-produk Nestle, yang didasarkan pada laporan media Financial Times. Analisis itu tidak mencakup produk -produk gizi bayi atau anak, gizi khusus, makanan hewan peliharaan, dan produk kopi,” kata Direktur Corporate Affairs Nestle Debora R. Tjandrakusuma melalui pernyataan resmi, 7 Juni 2021.

Debora mengungkapkan, jika dilihat dari keseluruhan portofolio produk-produk Nestle dan berdasarkan penjualan global, yang tidak memenuhi standar kurang dari 30 persen.

“Berdasarkan total penjualan global, kurang dari 30 persen tidak memenuhi standar kesehatan eksternal yang ketat yang didominasi produk-produk indulgent (memanjakan), seperti cokelat dan es krim, yang bisa dikonsumsi dalam jumlah yang cukup sebagai bagian dari pola makan sehat, seimbang, dan menyenangkan,” ungkapnya.

Kandungan gula, garam, dan lemak

Tangkapan layar soal trending topic di Twitter pada Kamis (17/6/2021) malam.Twitter Tangkapan layar soal trending topic di Twitter pada Kamis (17/6/2021) malam.

Debora mengklaim, portofolio merek dan kategori produk-produk Nestle di Indonesia berkontribusi secara positif untuk kesehatan.

“Di Indonesia kami memproduksi dan mendistribusikan produk-produk sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, termasuk persyaratan gizi, kualitas dan keamanan dari BPOM, serta peraturan Halal,” kata Debora.

Sementara itu menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pemberitaan yang menyebutkan 60 persen produk Nestle tidak sehat, tidak terkait dengan keamanan dan mutu pangan.

BPOM menyebutkan, informasi produk tidak sehat yang disampaikan pada pemberitaan tersebut, tidak terkait dengan keamanan dan mutu pangan.

BPOM dalam keterangannya menyebut, informasi mengenai produk Nestle tidak sehat tersebut lebih menyoroti pencantuman kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) sebagai salah satu faktor risiko penyebab Penyakit Tidak Menular (PTM), jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan.

Informasi kandungan GGL merupakan bagian dari pencantuman Informasi Nilai Gizi (ING), yang diberlakukan wajib melalui Peraturan Badan POM Nomor 22 tahun 2019 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan.

Terkait aspek keamanan, mutu, gizi dan label terhadap produk Nestle, BPOM mengatakan telah melakukan proses evaluasi.

Termasuk pencantuman ING dalam memberikan Nomor Izin Edar (NIE) produk pangan olahan, termasuk produk Nestle yang beredar di Indonesia.

Edukasi masyarakat

Selain BPOM, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) pun angkat suara terkait tidak sehatnya produk Nestle tersebut.

Ketua BPKN RI Rizal E Halim, meminta masyarakat tetap tenang dan bijak ketika melakukan konsumsi, memeriksa label, serta membaca informasi yang tertera pada kemasan.

“Masyarakat harus tetap tenang ketika melakukan konsumsi, dengan memeriksa label, serta membaca informasi pada kemasan,” ungkap Rizal sebagaimana diberitakan Kompas.com, 10 Juni 2021.

Pihaknya telah melakukan pertemuan secara simultan dengan PT Nestle Indonesia dan BPOM RI untuk memastikan, serta meluruskan isu meresahkan yang beredar di masyarakat.

Dalam dokumen internal Nestle yang diterbitkan oleh Financial Times disebutkan, produk tak sehat Nestle merupakan produk yang tidak memenuhi standar Australia Health Rating System dengan ambang batas poin 3,5.

Rizal menilai, pemberitaan tersebut berkaitan dengan pencantuman kandungan gizi produk, khususnya kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) sebagai salah satu faktor risiko penyebab penyakit tidak menular (PTM) jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan.

“Dalam permasalahan ini, BPKN RI mengusulkan untuk melakukan pendekatan–pendekatan label dikemasan agar mudah dipahami konsumen dan memberikan edukasi kepada masyarakat baik dari sisi pelaku usaha maupun otoritas terkait,” ungkap dia.

Rizal berharap koordinasi tersebut bisa meminimalisir permasalahan nilai gizi khususnya kandungan GGL pada makanan dan minuman dalam kemasan. Dengan begitu, dapat memitigasi risiko ke depannya bagi rakyat Indonesia.

“Persoalan kelebihan GGL relatif sulit ditemui dan dikenali dalam waktu singkat karena dampaknya perlahan dalam beberapa waktu ke depan. Kita tidak ingin generasi muda menghadapi persoalan seperti penyakit diabetes, jantung, hipertensi, dan lain sebagainya,” tegasnya.

Sumber: Kompas.com

 


KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo
Infografik: 9 Gejala Diabetes yang Sering Tidak Disadari

Sumber: Klik disini


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments