5 Lokasi wisata favorit Afgan di kawasan Nusa Tenggara

Penyanyi Afgan menikmati pemandangan indah dari puncak Pulau Padar, Nusa Tenggara Timur.

Penyanyi Afgan menikmati pemandangan indah dari puncak Pulau Padar, Nusa Tenggara Timur.

Penyanyi Afgan baru saja menyelesaikan syuting acara petualangan bertajuk “AXN Ultimate Challenge Indonesia” bersama rekan sesama selebritas, yakni Isyana Sarasvati, Reza Chandika, dan Rara Sekar. Dalam acara 6 seri yang ditayangkan AXN Asia melalui saluran TV berbayar dan YouTube tersebut, mereka menjelajahi beberapa lokasi di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur; Mandalika, Nusa Tenggara Barat; dan Bali.

Afgan dan kawan-kawan tampak menikmati keindahan alam yang ditawarkan di tiga lokasi wisata favorit di Indonesia itu. Ada beberapa tempat yang menurut penyanyi berusia 32 tahun itu telah menorehkan kenangan indah di hati dan membuatnya ingin kembali lagi.

Dalam wawancara eksklusif dengan Yahoo Indonesia, selebritas bernama lengkap Afgansyah Reza tersebut menuturkan lima lokasi yang menurutnya wajib dikunjungi oleh para pelancong.

1. Bukit Merese

Pemandangan aerial Bukit Merese yang terletak di Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Pemandangan aerial Bukit Merese yang terletak di Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Bukit yang terletak di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini memang telah lama menjadi kawasan yang dituju para wisatawan. Namanya semakin menanjak sejak Pertamina Mandalika International Street Circuit menjadi tuan rumah balapan World Superbike untuk pertamakalinya pada November lalu.

Pemandangan dari puncak bukit ke arah Samudera Hindia, Tanjung Aan, atau Batu Payung amat memanjakan mata. Pemandangan saat Matahari terbit atau tenggelam dari bukit yang berjarak 40 menit dari Bandara Internasional Lombok dan sekitar 1,5 jam dari Mataram, ibu kota NTB, ini amat menakjubkan.

“Kita bisa melihat sunset di atas bukit dan pemandangannya laut luas. Bagus banget! Menurut saya itu yang paling indah. Dan saya belum pernah kesana, jadi begitu saya lihat…..wah Indonesia ini sangat indah! Jadi itu wajib, salah satu yang harus dikunjungi,” jelas Afgan.

2. Tanjung Aan

Kawanan kerbau melintasi pantai di Tanjung Aan, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Kawanan kerbau melintasi pantai di Tanjung Aan, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kawasan Mandalika tampaknya telah merebut hati Afgan. Artis dari Jakarta ini menyebut Tanjung Aan sebagai salah satu tempat wisata yang harus dikunjungi.

“Tempat ini bagus untuk sport activity begitu,” ujarnya.

Pantai Tanjung Aan terbentang sepanjang 2 km, menghadap lautan yang berkilauan saat Matahari bersinar. Ia dikelilingi perbukitan yang indah dan langit bersih yang cerah. Ada dua jenis pasir di pantai ini, yaitu pasir halus seperti bedak dan pasir bertekstur mirip merica pada bagian dekat perbukitan. Di situ juga ada Batu Payung, yang menjadi tempat favorit untuk bergaya di media sosial atau sekadar beristirahat.

Seperti dikatakan Afgan, banyak kegiatan olahraga air yang bisa dilakukan di sana. Ombaknya sempurna untuk berenang, berselancar atau snorkeling.

3. Pulau Padar

Afgan (kiri) dan Reza Chandika mengabadikan keindahan pemandangan Pulau Padar, Nusa Tenggara Timur.
Afgan (kiri) dan Reza Chandika mengabadikan keindahan pemandangan Pulau Padar, Nusa Tenggara Timur.

Ini adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. Walau demikian, tidak ada komodo yang tinggal di pulau ini.

Pulau Padar terkenal dengan pemandangan alam yang memukau. Dari titik tertinggi di pulau ini, sekitar 200 meter dari permukaan laut dan didaki melalui 300 buah anak tangga, kita bisa menyaksikan panorama pulau-pulau kecil sekitar dan laut yang amat jernih.

Terlihat pula keajaiban alam berupa tiga teluk dengan warna pasir yang berbeda; putih mutiara, hitam, dan merah muda. Pantai tersebut masuk dalam daftar 10 pantai terunik di dunia versi Atlas Obscura. Tak heran jika selain untuk berwisata, banyak pula pasangan yang menjadikan Pulau Padar sebagai lokasi foto pra-pernikahan.

“Walaupun hiking-nya luar biasa melelahkan, cuma begitu sampai atas … wah, sangat worth it. Dan pemandangannya bagus banget. Tapi saya sarankan jangan ke sana kalau siang-siang. Mungkin pagi-pagi buta atau sore,” kata Afgan.

4. Desa Sade

Kehidupan sehari-hari di Desa Sade, Nusa Tenggara Barat. Desa yang didiami Suku Sasak tersebut masih mempertahankan cara hidup tradisional.
Kehidupan sehari-hari di Desa Sade, Nusa Tenggara Barat. Desa yang didiami Suku Sasak tersebut masih mempertahankan cara hidup tradisional.

Desa di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ini didiami oleh Suku Sasak, suku asli Pulau Lombok. Walau menjadi tujuan wisata, desa seluas 3 hektare ini bukan tempat yang sengaja dibangun untuk turis.

“Saya lupa sudah berapa lama, mungkin sudah ratusan tahun kali ya umur desanya. Dan sampai sekarang turun-temurun mereka semua tinggal di sana, tertutup dari dunia luar. Mereka, kalau tidak salah, tidak punya TV, tak ada apa-apa. Jadi benar-benar hidup seperti jaman dulu gitu. Dan kerjanya mereka di sana untuk perempuannya memproduksi kaya kain-kain tradisional dan lain lain. Seru banget bisa kesana dan ketemu sama orang-orang di sana,” kata Afgan bercerita tentang pengalamannya di Desa Sade.

Suku Sasak telah tinggal di Desa Sade sejak sekitar 350 tahun lalu. Saat ini ada 150 rumah tradisional yang menjadi tempat tinggal 700 warga di desa yang berjarak sekitar 25 menit dari Bandara Internasional Lombok itu. Mereka mempertahankan gaya hidup dan budaya asli Suku Sasak, seperti mengepel lantai rumah dengan kotoran sapi agar serangga, terutama nyamuk, tidak masuk ke rumah.

Warga desa terbuka pada kunjungan wisatawan, selama mereka mematuhi peraturan yang berlaku di desa tersebut. Para pengunjung bisa menyaksikan kehidupan sehari-hari Suku Sasak, ikut beraktivitas bersama mereka, seperti menenun, serta membeli hasil karya penduduk setempat sebagai buah tangan.

5. Goa Rangko

Seorang turis tampak tengah menikmati keindahan Goa Rangko.
Seorang turis tampak tengah menikmati keindahan Goa Rangko.

Gua ini terletak di Desa Rangko, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Berjarak sekitar 1 jam perjalanan darat dari Labuan Bajo.

Goa Rangko adalah gua batu kapur dengan arsitektur alami stalaktit yang indah dan memiliki kolam dengan air sejuk dan jernih berkedalaman 3-4 meter. Walau agak berjarak dari laut, air di kolam Goa Rangko terasa asin. Diperkirakan di dalam gua ada retakan yang membuat air laut merembes ke dalam kolam.

“Di sana di dalam guanya ada kolam yang besar sekali. Kita bisa berenang di dalam gua. Itu salah satu pengalaman yang paling menarik,” jelas Afgan.

Keindahan pemandangan stalaktit di atap gua saat matahari bersinar ke dalamnya, membuat Goa Rangko mulai menarik perhatian para pelancong dari luar Nusa Tenggara Timur. Tak ada kelelawar yang tinggal di dalam gua itu, sehingga suasananya tenang dan tak menyeramkan.

Jika ingin berkunjung ke sana, disarankan datang pada siang hari, antara pukul 12.00-14.00 waktu setempat, agar Anda bisa jelas menyaksikan keindahan interior gua yang terpapar sinar matahari.

Sumber: Lihat


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Close
Open
×
x