5 Bahaya Rokok Elektrik bagi Kesehatan, Termasuk Penyakit Pneumonia Lipoid

VAPE atau rokok elektrik disebut tidak lebih aman jika dibandingkan dengan rokok tembakau biasa. Anggapan inilah yang membuat vape atau rokok elektrik semakin banyak digemari di Indonesia. Para pengguna vape mengatakan, rokok elektrik ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan rokok tembakau, dan bahkan untuk membuat perokok berhenti merokok. 

Namun sebelum Anda berpikir nge-vape aman bagi kesehatan, Anda harus membaca beberapa fakta di bawah ini.

Meskipun banyak yang meyakini vape tidak merusak kesehatan, faktanya, rokok elektrik ini tidak benar-benar jauh dari zat kimia berbahaya yang mengancam kesehatan jiwa dan raga, lho. Berikut beberapa bahaya vape yang perlu diwaspadai.

BACA JUGA: Vape, Bahaya Tidak sih?

Berbagai kasus keracunan anak terjadi karena vape

Cairan vape mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi anak-anak. Kandungan nikotin cair di dalamnya sangat tinggi. Efek sampingnya bisa membuat otot berkedut, detak jantung meningkat, muntah, dan berkeringat. Bahkan apabila cairan terkena kulit, bisa menyebabkan sensasi terbakar.

Kandungan logam dalam asap vape sama besar bahkan lebih dari asap rokok tradisional

Sebuah penelitian menemukan bahwa logam seperti timah, nikel, perak, besi, aluminium, silikat, dan kromium terkandung dalam asap vape dalam jumlah yang sama bahkan lebih besar dari yang ditemukan dalam asap rokok tradisional. Partikel-partikel tersebut dapat merusak sistem pernapasan, menimbulkan risiko kanker, dan pertumbuhan sel yang abnormal.

Kandungan kimia di dalam vape menyebabkan bronchiolitis obliterans atau “popcorn lung”

Peneliti Harvard mengungkapkan bahwa pengguna vape beresiko mengidap penyakit bronchiolitis obliterans atau lebih akrab disebut sebagai ‘popcorn lung’. Kandungan kimia di dalam vape secara sistematis menghancurkan saluran udara paru-paru terkecil.

Jangan dianggap sepele, karena satu-satunya cara mengatasi penyakit ini dengan transplantasi paru-paru.

Risiko terkena penyakit pneumonia lipoid

Seorang wanita berusia 42 tahun terkena pneumonia lipoid saat baru saja menjadi pengguna vape. Kasus ini disebabkan oleh reaksi peradangan terhadap keberadaan zat lipid di paru-paru, atau timbunan lemak yang ditemukan di jaringan paru-paru.

Dokter mengatakan bahwa itu semua ada hubungannya dengan minyak berbasis gliserin yang ditemukan dalam vape. Setelah berhenti menggunakan vape, kondisi pernapasannya membaik.

Sebagian besar bahan Vape juga mengandung formaldehid, bahan pengawet di kamar jenazah

Seorang profesor kimia dan teknik di Portland State University di Oregon menemukan adanya formaldehid dalam cairan vape. Formaldehid adalah bahan pembuatan lem dan alat perekat, pelapis produk kertas dan bahan bangunan, bahkan sebagai bahan pengawet di kamar jenazah dan laboratorium medis. []

SUMBER: IDN TIMES


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments