Bermodal Uang Amplop Undangan, Pasangan Ini Berhasil Raih Keuntungan Ratusan Juta Tiap Bulan

diabetes mellitus,diabetes insipidus,diabetes symptoms,diabetes type 2,diabetes medications,diabetes type 1,diabetes diet,diabetes in dogs,diabetes association,diabetes and alcohol,diabetes awareness month,diabetes a1c,diabetes and pregnancy,diabetes and heart disease,diabetes and kidneys,diabetes app,a diabetes delegated care aide,a diabetes diet,a diabetes association,a diabetes specialist,a diabetes-like condition may develop when,a diabetes breakfast,a diabetes doctor,a diabetes diet plan,diabetes blood test,diabetes blood sugar,diabetes breakfast,diabetes bracelet,diabetes blindness,diabetes blood sugar chart,diabetes blood pressure,diabetes breath,b diabetes mellitus,diabetes b symptoms,diabetes b vitamins,diabetes b type,diabetes b cells,diabetes b complex,diabetes b blocker

Bila ada kemauan dan tekad yang kuat, siapa saja bisa menjadi pengusaha sukses.

Seperti kisah pasangan suami istri ini yang mengandalkan uang amplop kondangan pernikahannya sebagai modal membuka usaha.

Meski awalnya sempat merugi, siapa sangka Sally Giovanny dan suaminya Ibnu Riyanto kini sukses menjadi pengusaha batik dengan omzet ratusan juta rupiah.

Sally merupakan pemiliki brand batik Trusmi yang telah berdiri sejak 2006 yang telah memiliki 9 showroom batik di seluruh Indonesia.

Usaha sukses dengan omset ratusan juta ini bermula dari Sally dan suaminya yang pada tahun 2006 baru saja menikah.

Karena tak memiliki pengalaman kerja, mereka memutuskan untuk berwirausaha yang bermula dari uang amplop pemberian tamu undangan pernikahannya.

Dikutip dari Tribun Jabar, Pasangan ini mendapatkan modal sebesar Rp37 juta, mereka kemudian membeli kain mori dan putih pilis untuk membuat batik yang kemudian mereka jual dengan keuntungan hanya Rp 8 ribu per lembar kain.

“Sejak menikah kami memang langsung memutuskan membuka usaha batik.

Kebetulan modalnya diperoleh dari amplop saat nikahan, ya sekitar Rp 37 juta,” ujar perempuan 30 tahun itu.

Namun, kebanyakan yang terjual adalah kain mori untuk kafan sehingga ia tak mendapatkan keuntungan.

Mulanya ia cukup ragu berwirausaha, karena tak memiliki latar belakang pendidikan di bidang bisnis.

“Kami memang tidak memiliki latar belakang bisnis atau sekolah bisnis. Saya dan suami sama-sama lulusan SMA dan kami menikah muda. Tapi orang tua kami sama-sama pebisnis sehingga kami belajar dari mereka,” kata Sally.

Lima bulan mengalami kerugian, atas saran mertuanya ia kemudian membuat batik dari kain sisa penjualannya.

Sisa modal usaha yang masih ada 12 juta kemudian ia serahkan pada perajin batik kecil di daerah tempat tinggalnya, Trusmi.

Dari sinilah ia kemudian menjualkan batik khas Cirebon yang ia jual ke beberapa kota besar.

Berhasil menjajakan ke toko-toko di kota besar, ia kemudian membuka toko pertama di Jalan Trusmi Kulon No 129 dengan nama batik IBR.

Setelah 2 tahun, toko tersebut ramai dan permintaan pelanggan cukup tinggi, sehingga ia kemudian membuka toko keduanya dengan jarak yang tak terlalu jauh.

Pada tahun 2011 Sally mempunyai empat ruang pamer batik di Cirebon dengan nama Batik IBR, Batik Trusmi (berganti nama menjadi Batik Nayla), Batik Raja dan Batik Trusmi yang dibuka awal tahun 2011.

Kini luas toko Pusat Grosir Batik Trusmi Cirebon mencapai 1,5 hektar.

Jumlah karyawan yang bekerja padanya berjumlah lebih dari 850 orang disamping bekerja sama dengan 500 lebih pengrajin batik.

Ruang pamerannya atau showroom ini merupakan yang terbesar di Jawa Barat dengan konsep one stop shopping.

Tak hanya itu, kain batik produksinya juga di ekspor ke berbagai negara, hingga Eripa dan Amerika.

Setidaknya ada 7000 potong kain sutera batik yang ia ekspor yang dikirim melalui eksportir di Bali setiap minggunya.

“Kami hanya menyediakan kain sesuai permintaan pelanggan. Soal ekspor diserahkan ke eksportir,” tutup Sally.

Kisah sukses pasangan suami istri ini bisa jadi contoh untuk Moms yang ingin merintis bisnis.

Semoga menginspirasi, ya!

Sumber: nakita.grid.id


Leave a Reply