Ada Mahluk Besar di Lokasi Longsor yang Tewaskan 4 Orang di Batubulan Bali

Longsor yang menggerus rumah IMade Oktara Dwi Paguna, 30, di Jalan Pratu Made Rambug Gang Taman Beji 4 Banjar Sasih Desa Batubulan, Gianyar,  hingga membuat dirinya tergolek di RSUP Sanglah, serta merengut nyawa istri dan tiga anaknya menjadi perbincangan masyarakat.

Kejadian ini tak hanya dikaitkan dengan kondisi rumah yang hancur,

tapi juga bagaimana cerita dan keyakinan masyarakat setempat terhadap angkernya lokasi tersebut, khususnya Tukad Tiyis, yang menggerus rumah korban.

“Lokasi itu, ya lumayan (angker),” ucap Ketut Wirama, 42, Kelian Dinas Banjar Sasih, Desa Batubulan, Gianyar, ketika ditanya mengenai sisi lain dari Tukad Tiyis, lokasi kejadian.

Dia menceritakan, bagi masyarakat asli Sasih, Tukad Tiyis tersebut sudah dikenal angker alias tenget.

Selain di areal tukad itu terdapat sebuah pura yang dia sebut bernama Pura Manik Tirta. Di areal tukad tersebut dia katakan juga menjadi pelancaran Ratu Niang.

Palinggih penyawangannya berada di jalur masuk Gang Taman Beji, areal perumahan tempat korban tinggal.

“Palinggih penyawangannya tepat di jalan baru masuk itu. Kalau melis atau nangluk merana biasanya dilaksanakan di sana (pelinggih penyawangan),” ucapnya.

Selain itu, masih dari cerita Wirama, kejadian-kejadian aneh, dan kemunculan mahluk gaib juga kerap dilihat warga.

Bahkan suara-suara aneh cukup sering terdengar, termasuk suara-suara aneh yang pernah dia dengan sendiri.

Lantaran dirinya yang semasa muda hobi memancing, tukad tersebut, khususnya lokasi kejadian menjadi lokasi favorit para pemancing.

“Tukad itu dari namanya Tukad Tiyis. Memang tukad ini tak ada hulunya hanya sampai Batuyang. Air tukad ini hanya daritiyisan (rembesan) air sawah. Makanya kalau musim kemarau, tukad ini bisa kering. Tapi kalau musim hujan airnya besar,” terangnya.

“Di lokasi itu sebenarnya juga favorit para pemancing. Saya juga sering dulu mancing di sana. Karena memang banyak ikan julit sama kulen. Bahkan besar-besar,” ungkapnya.

Tapi mereka yang pernah memancing di lokasi itu, dia sebutkan pasti pernah mendengar, mengalami atau melihat hal-hal gaib.

Dia pun pernah mengalami, ketika pancingnya tersangkut, dan dia berusaha melepas pancingnya itu, terdengar suara sorakan-sorakan dari rimbunnya rumpun bambu, ketika pancingnya putus.

“Kalau sudah muncul suara itu, tak peduli apa pun langsung lari. Di sana orang-orang juga kerap melihat orang berwujud besar hitam, atau pun seperti kuntilanak yang duduk-duduk di atas bambu. Kami sesama penyuka mancing di sana biasa mendengar cerita itu,” paparnya.

“Pernah juga saat ada orang mancing, dia cerita seperti ada orang megambel dengan memukul-mukul bambu. Padahal saat itu lagi tidak ada orang lain. Begitu terdengar suara aneh, langsung sudah lari,” imbuh pria tersebut, sambil kembali mencari data-data kependudukan korban dan keluarganya.

Seperti diketahui, rumah longsor Sabtu pagi (8/12) itu menewaskan empat orang korban.

Mereka adalah Ni Made Lintang Ayu Widnerti, 33 (ibu), Ni Putu Delta Larasati Palguna, 6 (anak pertama), Made Dian Aditya Palguna, 4 (anak kedua) dan Nyoman Adi Anggara Palguna, 2 (anak ketiga).

Sedangkan I Made Oktara Dwi Palguna, alias Ade 30 (ayah) masih dalam perawatan di RS Sanglah. Para korban ini tertimbun rumahnya sendiri yang longsor ke sungai.

Sumber: jawapos.com

Leave a Reply