5 Fakta Terbaru Tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Jumlah Korban Hingga Keterangan Nakhoda!

5 Fakta Terbaru Tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Jumlah Korban Hingga Keterangan Nakhoda!

TRIBUNSTYLE.COM – Masyarakat dihebohkan dengan tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun.

Kapal yang berangkat dari Simarindo, Kabupaten Samosir itu karam saat berangkat menuju Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

KM Sinar Bangun dikabarkan terbalik di Danau Toba pada hari Senin (18/6/2018) sore.

Cuaca buruk dan over kapasitas diduga menjadi penyebab tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun ini.

Hingga saat ini, Tim Pencarian masih mencari ratusan korban yang hilang.

Lantas, bagaimana perkembangan terbaru insiden tersebut?

Tribunstyle melansir dari berbagai sumber, berikut 5 fakta terbarunya.

1. Data Terbaru Jumlah Korban

(KOMPAS.com/Mei Leandha)

Kepala Kantor SAR Medan Budiawan menjelaskan, jumlah korban KM Sinar Bangun seluruhnya 188 orang.

Angka itu berasal dari data terbaru yang didapat tim SAR Gabungan.

Dari jumlah tersebut, 164 orang di antaranya dinyatakan hilang.

Perubahan data ini terjadi setelah sinkronisasi dengan data kepolisian dan Jasa Raharja yang mendatangi langsung keluarga para korban.

Tribunstyle melansir dari Kompas.com, “Sebelumnya disebutkan korban selamat 18, meninggal tiga dan hilang 184 orang. Sekarang jumlah korban yang selamat jadi 21, meninggal tiga, dan hilang 164 orang,” kata Budiawan, Selasa (26/6/2018).

“Ada beberapa nama yang sama karena ada yang melaporkan dengan nama lengkap, ada yang nama panggilan. Sementara tambahan tiga korban selamat adalah nahkoda dan ABK-nya. Mereka adalah Poltak Saritua Sagala, Jenapia Aritonang dan Reider Malau,” sambungnya.

2. Seluruh Korban Dapat Dana Santunan

(Tribun Medan/Riski Cahyadi)

Seluruh korban bakal mendapat santunan dari Jasa Raharja.

Korban selamat mendapatkan uang sejumlah Rp 20 juta, sementara korban meninggal dunia Rp 50 juta.

Penyaluran dananya langsung ke rekening ahli waris.

3. Basarnas Kerahkan Multibeam Sonar, Helikopter, dan Pukat Harimau

(Tribun Medan/M Adimaz Kahfi)

Pencarian korban hilang KM Sinar Bangun telah memasuki hari ke-11.

Kepala Kantor SAR Pencarian dan Pertolongan Medan, Budiawan mengatakan kini Tim SAR coba untuk menggunakan pukat harimau yang diharapkan mampu menemukan titik cerah dalam pencarian.

Terlebih saat ini posisi bangkai KM Sinar Bangun diduga berada di kedalaman 490 meter.

“Kita sudah berusaha menggunkan segala macam cara. Seperti di permukaan air menggunakan perahu karet untuk penyisiran dan kita harapkan saja mudah-mudahan maksimal alat ini ROV dan pukat harimau mampu menjangkau KM Sinar Bangun,” kata Budiawan, Kamis (28/6/2018).

Sekitar 300 personel dikerahkan karena penggunaan alat pukat harimau membutuhkan banyak orang.

Bahkan tiga helikopter sampai diturunkan untuk menyisir dan memantau lokasi pencarian melalyi udara.

“Pencarian juga banyak didukung menggunakan pukat harimau. Dan bantuan relawan dari Pemkab Samosir, 50 personel. Kekuatan harus ditambah, karena alat pukat harus banyak yang menariknya,” jelas Budiawan.

4. Kesaksian Beberapa Korban Selamat

(Tribun Medan)

Seorang wanita bernama Sri Santika (25) merupakan salah satu korban selamat dalam tragedi tersebut.

Di hadapan wartawan, wanita yang tengah mengandung ini menceritakan kisah perjuangannya untuk menyelamatkan diri dan sang buah hati.

Sri mengisahkan, dirinya menaiki KM Sinar Bangun bersama sang suami, Muhammad Irfan (22).

Sayangnya hingga berita ini ditulis, suami Sri masih dalam proses pencarian.

Sri sendiri berangkat ke Tigaras bersama tiga orang teman suaminya, yakni Hernando Lingga, Rahmjat, dan Dedi Setiawan.

Warga Batubara ini juga menceritakan ada tanda-tanda saat hendak menuju Samosir.

“Awalnya saat berangkat dari Siantar sepeda motor kami mogok. Padahal awalnya, sepeda motor kami dalam kondisi baik,”ujarnya sembari mengusap air matanya.

Sambil menahan tangis, Sri mengisahkan terakhir kali dirinya berpegangan tangan dengan Irfan sebelum kapal tenggelam.

Sri sendiri berhasil selamat berkat tiga orang yang sedang memegang pelampung.

“Saya teriak sama tiga orang laki-laki yang memegang pelampung. Saya bilang, saya sedang hamil. Mereka pun tolong saya,”ujarnya di Dermaga Tigaras, Kabupaten Simalungun, Minggu (24/6/2018).

Namun, Sri tidak tahu apakah tiga orang tersebut selamat atau tidak.

Dia pun mengaku jika perjuangannya untuk naik ke permukaan sangat sulit.

Banyak korban yang saling tarik-menarik.

Bahkan, Sri sempat tenggelam jauh ke dalam danau.

Sementara seorang pemuda bernama Sandri Marianto Sianturi mengisahkan pengalaman mengerikannya sebagai korban selamat KM Sinar Bangun yang tenggelam.

Sarjana Ekonomi itu mengisahkan, dirinya sudah memegang dua pelampung sebelum kapal tenggelam.

Namun, pelampung itu tak jadi dipakai karena ketiga kawannya yang juga menaiki KM Sinar Bangun menertawakannya.

Tribunstyle melansir dari Tribun Medan, “Ada kawan berempat yang tiga sudah dil uar, ada kereta yang parkir di belakang, aku di situ sudah takut juga, sudah kusiapkan pelampung dua, tapi kutanya sama petugasnya, dia bilang aman, jadi saya mau pakai pelampung ketawa kawan saya, tenang saja, jadi ga jadi kupakai,” kata Sandri

Sandri melanjutkan, setelah itu dia mengaku aneh karena para penumpang di atas kapal terlihat tenang-tenang saja.

“Naiklah aku ke atas, dan aku lihat kenapa tenang sekali, terus ku tanya teman, dia bilang sudah panik semua, tapi disuruh diam,” katanya.

Dirinya pun kembali ke dalam dan berniat mengambil dua pelampung yang tadi sudah dipersiapkan.

Sayang, kapal mulai oleng saat dirinya hendak mengambil pelampung tersebut.

“Kemudian turun lagi aku ke bawah untuk ambil pelampung, saat di bawah kapal sudah oleng ke kanan dan muatan motor di kapal terbalik dan semakin berat ke arah kanan, terbaliklah kapal,” sambungnya.

Sandri menjelaskan, saat itu kondisi KM Sinar Bangun sudah sangat gelap.

Dia dan penumpang yang lain terjebak di bagian dalam kapal KM Sinar Bangun.

“Sudah gelap semua di dalam itu terjebak, dua kali ambil napas, mau ambil mapas lagi udah penuh semua dengan air, saya sempat tutup mata, sudah pasrah,” kata Sandri.

Sandri pun berusaha untuk mencari jalan keluar.

Setelah itu, dirinya pun baru mengetahui bahwa KM Sinar Bangun sudah dalam posisi terbalik.

“Tapi terbangun lagi, aku pegang besi dan meraba-raba untuk mendorong ke atas dan keluarlah, ternyata kapal sudah terbalik dan orang sudah banyak di atas kapal,” ujarnya.

Sandri dan beberapa penumpang lain mengambang di permukaan Danau Toba.

Beberapa saat setelah terbalik, KM Sinar Bangun pun tenggelam.

Semua penumpang termasuk Sandri berupaya mencari barang yang bisa digunakan untuk mengapung.

Akibat panik, sejumlah penumpang berupaya dengan menarik penumpang lain.

“Tidak selang lima menit kapal itu tenggelam dan ia pun berenang, pada waktu itu semua sudah tarik-tarikan,” jelasnya.

Sandri sendiri juga tak luput dari tarikan penumpang KM Sinar Bangun yang lain.

Akhirnya, Sandri menemukan sebuah helm.

“Kemudian ada helm, jadi aku ambil untuk pelampung aku dan narik napas ke atas, kalau hanya berenang saja gak sanggup,” katanya.

Tak berselang lama, Sandri bertemu sepasang penumpang yang menggunakan pelampung.

Sandri bergabung dengan mereka dibantu pelampung dan helm.

Ketika tengah mengapung, ada seorang perempuan yang menghampiri Sandri dan dua penumpang tersebut.

Menurut Sandri, wanita ini panik hingga tak memegang pelampung melainkan tangan Sandri.

“Rupanya datang cewek satu lagi, panik dia, kalau aku panik juga bisa tenggelam lah kita berempat,” ujarnya.

Sandri berkata bahwa bantuan yang datang untuk menolong penumpang KM Sinar Bangun cukup lama.

Hampir satu jam kapal-kapal lain baru datang.

“Hampir satu jam, datang ferry dan melempar pelampung jadi aku berenang langsung ke pelampung itu,” tutup Sandri.

5. Keterangan Nakhoda KM Sinar Bangun

(Grid.id)

Ketika ratusan penumpang masih hilang di Danau Toba, sang nahkoda sekaligus pemilik kapal yakni SS justru selamat.

SS ditemukan oleh Polres Samosir dan menjadi satu dari 18 korban selamat.

Melansir Kompas.com, SS sempat mengaku trauma usai kejadian tersebut.

SS kini akhirnya bersedia angkat bicara.

SS yang kini statusnya telah dinaikkan menjadi tersangka, buka suara dalam wawancara Metro Siang di stasiun televisi swasta Metro TV edisi 24 Juni 2018.

Sebelum diwawancara, SS terlebih dahulu meminta maaf kepada keluarga korban.

Saat ditanya bagaimana ia menyelamatkan diri, SS mengaku bahwa ia tidak bisa melakukan apa-apa saat kapal oleng dan terbalik.

Saat itu, air sudah masuk ke dalam kapal dan ia mencari celah untuk keluar dari pintu kemudi di mana ia sempat terjebak.

“Saya berenang itu tiba-tiba nyari celah untuk keluar dari pintu kemudi. Ruang kemudi di situ ada penumpang kurang lebih ada 7 orang,” ujar SS.

Ia lalu memecahkan kaca dan segera berenang keluar.

“Pada saat itu, saya melihat ada kaca, kayak celah ke depan. Saya megangnya rupanya kaca. Saya memecahkan kaca ini,” lanjut SS.

Beruntung, SS bisa berenang dan akhirnya menyelamatkan diri.

SS bersaksi bahwa saat itu, semua orang mengambil jalan masing-masing karena sama-sama tak menyangka akan terjadi hal seperti itu.

“Pada saat itu semua ambil jalan masing-masing. Namanya kejadian tiba-tiba, kita berusaha untuk cari jalan keluar alternatif masing-masing,” kata SS.
(Tribunstyle/ Irsan Yamananda)

Leave a Reply