Benarkah Kematian Begitu Menakutkan? Ini Kata Maulana Rumi

Kematian adalah konsekuensi tak terhindarkan dalam sebuah kehidupan. Kematian bukan sebuah tanda bahwa semuanya berakhir, melainkan awal dari mulanya sebuah episode kehidupan yang sesungguhnya.

Sebab itulah kematian disebut sebagai pintu gerbang untuk meneruskan dan memasuki kehiudpan baru ynag lebih indah dan berkualitas.

Jika keabadian dunia adalah ketidak abadian, maka kepastian dunia adalah ketidak pastian. Kehidupan di dunia tidak ada yang pasti.

Yang pasti adalah mati. Sebagaimana Allah menyuratkan dalam surah al-Ankabut ayat 57:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”

Jika memang tiada yang pasti kecuali sebuah kematian, lantas kenapa kematian itu terkesan begitu menakutkan? Sedangkan dunia sangat sayang untuk ditinggakan?

Itulah bagian rasa yang dialamai oleh orang-orang yang dimanjakan oleh kenikmatan dunia yang telah dipeluknya selama ini. Dunia ini memiliki dimensi permainan yang bisa membuat orang lalai.

Oleh karena itu, Islam mengajarkan kita untuk menyibukkan diri dengan berbuat baik, sehingga tak ada waktu bagi kita untuk berbuat buru. Dalam puisinya, Maulana Rumi mengingatkan:

Jika kau takut dari kematian

Kau takut pada dirimu sendiri

Itulah wajah-wajah burukmu, bukan kematian

Ruhmu seperti pohon

Kematian daun-daunnya

Berapa banyak anak pikiranmu kan kau lihat di kubur?

Pikiran baikmu lahirkan remaja dan bidadari

Oikiran burukmu? Setan-setan besar

Maulana Rumi secara tidak langsung mengungkapkan bahwa sesuatu yang bisa menenutuakn kehidupan kita setelah kematian adalah amal.

Hal tersebut senada dengan sabda Rasulullah yang menginformasikan bahwa orang yang berbahagia itu orang yang sibuk berbuat baik sampai tidak sempat berbuat buruk, orang ynag sibuk mengintrospeksi kekurangan dirinya hingga lupa melihat kekurangan orang lain, dan orang yang hatinya hanya diisi kerinduan kepada Tuahn hingga tidak ada ruang untuk menampung bisikan setan.

Dari situlah kita bisa mengambil hikmah bahwa kematian adalah penyemangat kita untuk melakukan amal kebaikan sebanyak mungkin.

Bayangkan kematian akan terjadi besok. Begitu nasihat Nabi Saw. ketika memerintahkan umatnya berkarya untuk kehidupan akhirat.

Ke mana pun pergi, di mana pun berada, kematian adalah teman yang paling dekat dengan kita. Sebab itulah, mari kita mulai berinvestasi dengan amal yang terbaik demi kehidupan yang baik pula setelah kematian.

Sumber: bincangsyariah.com

Leave a Reply