Hukum Menjual Barang yang Cacat

Suatu ketika Rasulullah melewati sebuah pasar, beliau mendapatkan penjual makanan yang menumpuk bahan makanannya.

Bisa jadi seperti tumpukan biji-bijian, ada yang di atas ada yang di bawah. Bahan makanan yang di atas tampak bagus, tidak ada cacatnya.

Namun ketika Rasulullah memasukkan jari-jemari ke dalam tumpukan bahan makanan tersebut, beliau dapatkan ada yang basah karena kehujanan (yang berarti bahan makanan itu ada yang cacat).

Penjualnya meletakkannya di bagian bawah agar hanya bagian yang bagus yang dilihat pembeli. Rasulullah  pun menegur perbuatan tersebut dan mengecam demikian kerasnya.

Karena hal ini berarti menipu pembeli, yang akan menyangka bahwa seluruh bahan makanan itu bagus.

Seharusnya seorang mukmin menerangkan keadaan barang yang akan dijualnya, terlebih lagi apabila barang tersebut memiliki cacat. Sebagaimana sabda beliau:

غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى

“Barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami”

Dengan demikian apabila menjual suatu barang yang cacat, hendaknya tidak disembunyikan atau lebih baiknya dijelaskan kecacatannya sebelum pembeli mengetahuinya sendiri.

Sebab kejujuran adalah nilai ajaran Islam yang sering mendatangkan keberkahan. Sebaliknya, berbuat dusta akan mengantarkan pada kejahatan dan berakhir pada neraka.

Menjual barang cacat tanpa menjelaskannya pada pembeli adalah merupakan penipuan secara tidak langsung. Rasulullah mengecam umatnya yang berlaku demikian.

Karena sesungguhnya para pedagang tersebut akan dibangkitkan kelak di hari Kiamat sebagai orang yang jahat, kecuali pedagang yang takwa kepada Allah, pedagang yang berlaku baik, dan pedagang yang jujur.

Menjual barang cacat yang tidak diketahui calon pembeli adalah perilaku yang tidak hanya dikecam oleh Rasulullah, melainan ia mendapatkan murka Allah dan malaikat pun melaknatnya.

Praktik jual beli yang begitu menunjukkan suatu kelaziman. Sebab menurut orang-orang yang materialis, yang suka berburu keuntungan dunia, kejujuran hampir identik dengan kerugian.

Bukan rugi karena dagangannya tidak dapat untung sama sekali, tapi rugi karena untungnya sedikit atau tidak seberapa.

Sementara teori mereka adalah mengeluarkan biaya sekecil mungkin untuk mendapatkan pemasukan sebesar-besarnya, sampai mereka lupa cara mendapatkan keberkahan dalam jual beli dan akhirnya menghalalkan berbagai cara.

Padahal perbuatan pedagang yang seperti itulah yang mendapatkan murka Allah.  Sebagaimana sabda Rasulullah:

مَنْ بَاعَ عَيْبًا لَمْ يُبَيِّنْهُ لَمْ يَزَلْ فِي مَقْتِ مِنَ اللَّهِ ، وَلَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَلْعَنُهُ

“Barangsiapa menjual barang yang cacat, lalu ia tidak menjelaskannya, maka senantiasa ia ada dalam kemurkaan Allah dan malaikat senantiasa melaknatinya”

Sumber: bincangsyariah.com

Leave a Reply