Mengenal Penyakit Megalomania, Orang Arogan yang Selalu Membanggakan Dirinya Sendiri

Di dunia ini masih saja banyak orang yang merasa dirinya lebih superior ketimbang orang lain. Sungguh menyebalkan bukan?

Kita bisa menemukannya di mana saja.

Di pesta misalnya, dalam hitungan menit pertemuan ia sudah menceritakan betapa suksesnya dirinya, bahwa ia sudah menjadi orang penting, dan segalanya yang membanggakan dirinya, sehingga ketika kita mendengarnya, kita bisa merasa kecil hati dan tidak layak.

Namun mengapa kita harus menderita karena perilaku si megalomania?

Orang-orang yang berfantasi menyombongkan dirinya, tentang kebesaran, kekayaan, keagungannya itu termasuk gangguan psikologis.

Jangan sedih, persoalannya itu bukan pada diri kita, tetapi pada kondisi mental orang itu.

Megalomania membuat seseorang memiliki delusi bahwa dirinya jauh lebih super dibandingkan rata-rata orang.

Dalam banyak kasus, seperti dijelaskan pada situs Lifehack.org, si megalomania akan mengklaim dirinya sebagai orang terkenal, kaya, bahkan genius.

 

Dan mereka berbicara dengan begitu meyakinkan agar lawan bicaranya terpengaruh akan apa yang disampaikannya.

Perlu diketahui, bahwa diestimasikan 1% dari populasi di dunia mengalami megalomania lo.

Sehingga tidak heran kalau kita sering menjumpai orang-orang seperti ini.

Jika kita tidak tahu bagaimana caranya menghadapi orang arogan seperti ini, kita bisa saja terjebak dan menjadi rendah diri ketika bertemu dengan orang seperti ini.

Sebab memang itulah tujuan mereka.

Kondisi megalomania berkaitan dengan gangguan kepribadian narsistik (Narsissistic Personality Disorder).

Sebagai salah satu gangguan mental yang menyebabkan seseorang sangat membanggakan dirinya sendiri.

Bagaimana menghadapinya? Berikut tujuh caranya:

 

– Hindari orang-orang megalomania sedapat mungkin.

– Ketika mendengar si megalomania, berpikirlah positif agar kita tidak stres dan terpengaruh karena kata-katanya.

– Tetaplah berjalan pada jalur. Jangan biarkan orang arogan mempengaruhi kepercayaan diri kita.

– Jangan mengasihani diri sendiri ketika menghadapi si megalomania, ingat tidak ada yang salah pada diri kita. Masalah itu ada pada diri si arogan itu.

– Kenali diri sendiri dan upayakan untuk membangun kekuatan dan keteguhan diri sendiri. Sehingga kita tidak merasa harus bersaing dengan si megalomania.

– Tanyakan pada mereka mengenai apa yang akan orang pikirkan mengenai sifatnya itu. Supanya ia bisa mengubah perilakunya demi mempertahankan reputasinya. Ingat si megalomania tidak senang jika ia direndahkan.

– Cari pertolongan profesional untuk membantu si megalomania untuk berubah. Apalagi jika ia adalah orang yang kita kasihi.

Leave a Reply