Di Malam Nisfu Sya’ban, Wanita Haid Juga Bisa Mendapatkan Pahala yang Sama, Lakukan Ini

Dua minggu jelang datangnya bulan suci Ramadan, umat muslim di seluruh dunia termasuk di tanah air biasanya akan menjalani ibadah malam nisfu syaban.

Malam nisfu syaban diperigati pada bulan ke delapan kalender Hijriah yakni bulan Syaban.

Peringatan nisfu syaban diperingati setiap tanggal 15 di bulan Syaban, tanggal 1 bulan Syaban.

Malam nisfu syaban disebut juga malam pengampuan dosa sehingga banyak umat muslim yang meluangkan waktu beribadahnya di malam nisfu syaban.

Lantas, bagaimana kaum hawa yang saat malam nisfu Syaban tengah berhalangan atau haid? Bolehkah menjalani rangkaian ibadah?

Dikutip dari pernyataan ustadz Ammi Nur Baits Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com, Islam tidaklah melarang umatnya untuk beribadah, selama tidak melanggar aturan.

Karena setiap manusia dituntut untuk menjalankan ibadah selama hayat masih dikandung badan. Allah menegaskan dalam firman-Nya,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu Al-Yaqin.” (QS. al-Hijr: 99)

Para ulama tafsir sepakat bahwa makna Al-Yaqin pada ayat di atas adalah kematian.

Tak terkecuali wanita haid. Islam tidaklah melarang mereka untuk melakukan semua ibadah.

Sekalipun kondisi datang bulan, membatasi ruang gerak mereka untuk melakukan amalan ibadah.

Boleh Lakukan Hal Ini
Selain enam jenis ibadah di atas, masih banyak amalan ibadah yang bisa dilakukan wanita haid. Diantaranya, membaca Al-Quran tanpa menyentuh lembaran mushaf.

“InsyaaAllah, ini pendapat yang lebih kuat. Penjelasan selengkapnya bisa anda pelajari di: Hukum Wanita Haid Membaca Al-Quran,” katanya.

Boleh Menyentuh Ponsel Atau Tablet yang Ada Konten al-Qura’nnya
Karena benda semacam ini tidak dihukumi Al-Quran. Sehingga, bagi wanita haid yang ingin tetap menjaga rutinitas membaca Al-Quran, sementara dia tidak memiliki hafalan, bisa menggunakan bantuan alat, komputer, atau tablet atau semacamnya.

Berdzikir dan Berdoa
Baik yang terkait waktu tertentu, misalnya doa setelah adzan, doa seusai makan, doa memakai baju atau doa hendak masuk WC, dll.

Membaca dzikir mutlak sebanyak mungkin, seperti memperbanyak tasbih (subhanallah), tahlil (la ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), dan zikir lainnya.

Ulama sepakat wanita haid atau orang junub boleh membaca dzikir. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 25881)

Belajar ilmu agama, seperti membaca membaca buku-buku islam. Sekalipun di sana ada kutipan ayat Al-Quran, namun para ulama sepakat itu tidak dihukumi sebagaimana Al-Quran, sehingga boleh disentuh.

Mendengarkan ceramah, bacaan Al-Quran atau semacamnya. Bersedekah, infak, atau amal sosial keagamaan lainnya.

Menyampaikan Kajian
Sekalipun harus mengutip ayat Al-Quran. Karena dalam kondisi ini, dia sedang berdalil dan bukan membaca Al-Qur’an.

Dan masih banyak amal ibadah lainnya yang bisa menjadi sumber pahala bagi wanita haid. Karena itu, tidak ada alasan untuk bersedih atau tidak terima dengan kondisi haid yang dia alami.

Sumber: tribunnews.com

Leave a Reply