Memasuki Bulan Sya’ban, Inilah 7 Amal yang Perlu Ditingkatkan

Bulan Sya’ban dikenal sebagai bulan yang terjepit atau bulan yang terlupakan dalam bahasa Rasulullah Saw. Karena bulan ini berada diantara dua bulan yang sangat mulia, yaitu bulan rajab dan bulan ramadhan.

Kedua bulan itu sudah tidak asing bagi kita akan kemuliaan dan keistimewaannya sebagai mana disinyalir dalam Alquran dan Hadis.

Akibatnya, ia seakan-akan terlupakan dan kehilangan aura keistimewaannya. Sehingga bulan ini sepi dari amalan-amalan yang seharusnya lebih ditingkatkan dari bulan-bulan sebelumnya.

Karena mengingat kedekatannya dengan satu bulan yang paling mulia yaitu ramadhan sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dan para ulama terdahulu.

Maka dari itu kita perlu mengetahui amalan-amalan yang perlu ditingkatkan dan ditekankan di bulan Sya’ban ini sebagai bentuk sambutan yang meriah terhadap datangnya bulan suci Ramadhan mendatang.

Dr. al-Syaikh Muhammad al-Dabbisi dalam bukunya, Hal al-Mu’minin fi Sya’ban menyebutkan ada tujuh amalan yang perlu ditekankan oleh kita sebagai umat islam dalam bulan sya’ban ini sebagai berikut:

1. Berpuasa Sebanyak Mungkin di Dalamnya
Hal pertama yang perlu ditekankan bagi kita sebagai umat islam dalam bulan Sya’ban ini adalah berpuasa.

Dimana Rasulullah SAW menurut beberapa riwayat berpuasa sebanyak mungkin yang tidak pernah dilakukan dibulan-bulan lainnya kecuali bulan Ramadhan sebagaimana hadis berikut:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ذاك شهر يغفل الناس عنه بين رجب رمضان وهو شهر ترفع الأعمال فيه إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملى وأنا صائم

“Bulan itu (Sya‘ban) berada di antara Rajab dan Ramadhan adalah bulan yang dilupakan manusia dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadah ku di angkat ketika aku berpuasa”. ( HR. an-Nasa’i) (Hal al-Mu’minin fi Sya’ban, hal. 30)

2. Meramaikannya Dengan Penuh Ketaatan
Sebagai mana disinggung diawal rasulullah Saw menamakan bulan ini dengan bulan yang terlupakan sebagaimana tersurat dalam sabdanya diatas.

Dengan demikian, berarti Rasulullah Saw menuntut umat islam untuk meramaikan waktu-waktu yang terlupakan dengan banyak ketaatan, mulai dari berdzikir hingga ibadah-ibadah lainnya sebagai bentuk penajaman pendekatan mereka terhadap Allah SWT.

Sehingga mereka tidak tergolong orang yang lengah dan lupa sebagai mana difirmankan dalam surah al-A’raf [7]: 205, wa laa takun min al-ghaafilin (dan jangalah kamu menjadi bagian dari orang-orang yang lengah dan lupa). (Hal al-Mu’minin fi Sya’ban, hal. 30)

3. Menekankan Diri Dalam Segala Upaya dan Daya (Mujahadah Al-Nafsi) Dalam Kebaikan dan Ketaatan
Penekanan dalam upaya dan daya (mujahadah al-nafsi) ini pasti sebagai sayarat utama dari seseorang yang ingin bangkit dari kelengahan dan keterpurukan.

Karena jika tidak demikian sama halnya ia hanya berada dalam bayang-bayang mimpinya untuk bangkit. Allah swt berfirman dalam surah al-ankabut: 69:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚوَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Lebih jelas Rasul bersabda terkait hal ini

“Dari Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘ Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh! Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya; bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan; jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya”. (H.R.al-Bukhâriy) (Hal al-Mu’minin fi Sya’ban, hal. 46)

4. Menyiapkan Amalan-amalan Terbaik Dalam Menghadapi Pelaporan Perbuatan Dengan Penuh Keikhlasan
“Bulan sya’ban ini menjadi pilihan Allah Swt untuk dilaporkannya perbuatan-perbuatan umat manusia dalam masa satu tahun oleh malaikat yang bertugas sebagaimana yang ditegaskan dan dilakukan oleh Nabi muhammad Saw diatas pada hadis yang terdappat dipoin pertama dan kedua. Itu artinya umat islam dituntuk untuk mempersembahkan amalan-amalan yang yang terbaik pada saat diamana perbuatannya dilaporkan kepada Allah Swt.” (Hal al-Mu’minin fi Sya’ban, hal. 52)

5. Menggapai Ampunan Allah di Malam Pertengahan Bulan Sya’ban Dengan Menjauhi Kesyirikan dan Permusuhan
Pada bulan ini terdapat malam dimana allah swt mengampuni semua dosa-dosa makhluknya kecuali orang-orang yang menyektukan-Nya dan suka menyulut api permusuhan sebagaiman disabdakan oleh nabi Muhammad SAW:

إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat waktu malam pertengahan Sya’ban, maka (Allah) mengampuni semua makhlukNya kecuali orang musyrik atau orang yang bersengketa.” (HR. Ibnu Majah, 1390)

Kita sebagai umat islam jangan menyia-nyiakan malam itu (malam nisfu sya’ban). Kita harus menggapainya dengan menjauhi dua katagori perbuatan yang menghalangi ampunan-Nya, yaitu menyektukan-Nya dan suka menyulut api permusuhan, disamping juga melakukan perbuatan-perbuatan lain yang bernilai positif. (Hal al-Mu’minin fi Sya’ban, hal. 66)

6. Memperbanyak Membaca dan Memahami Firman Allah (al-Qur’an)
Bulan ini sebagaimana kita ketahui adalah bulan pendahuluan bagi bulan ramadhan yang dikenal dengan bulan Alquran (syahr al-Qur’an).

Kita tentunya akan menikmati bacaan ayat-ayat suci didalamnya pada saat bulan ramadhan nanti jika kita sudah membiasakannya dibulan sya’ban ini, sebagaimana yang dilakukan oleh ulama’- ulama’ terdahulu.

Karena sejatinya seseorang akan sulit merasa nyaman dalam aktifitas tertentu jika belum terbiasa sebelumnya. (Hal al-Mu’minin fi Sya’ban, h. 70)

7. Bangun Malam Dengan Ibadah Tahajjud
Tentunya bangun malam dan ibadah tahajud tidak hanya dianjurkan dibulan ini, melainkan dibulan-bulan lainnya juga sangat dianjurkan untuk dilaksanakan.

Akan tetapi kita tahu bahwa bulan ini sebagai bulan pemanasan bulan ramadhan tentunya kita harus lebih menguatkan diri dalam upaya bangun malam untuk ibadah tahajud.

Karena sangat tidak mungkin kita tergolong orang-orang yang mendapatkan jaminan ampunan segala dosa karena terbiasa menghidupkan malam-malam ramadhan dengan penuh iman dan perenungan, kecuali kita sudah membiasakan dibulan-bulan sebelumnya khususnya dibulan sya’ban ini. (Hal al-Mu’minin fi Sya’ban, hal. 133)

Wallahu a’lam

Sumber: bincangsyariah.com

Leave a Reply