Kisah Siswa SD di Bali Jalan Kaki 20 KM ke Sekolah Tiap Hari, Pernah Terpaksa Nginap di Rumah Teman

Jarum jam menunjukan pukul 05.00 WITA. Udara sekitar Gulinten, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem dingin dan menusuk tubuh.

Kabut tebal turun dari bebukitan serta menutupi kampung. Sebagian besar warga masih tidur ditemani selimut.

Keadaan itu tidak berlaku bagi Ketut Marianta (12), siswa asal Gulinten.

Bocah kelas VI itu bangun pukul 04.30 Wita untuk mempersiapkan seragam, peralatan sekolah lalu berangkat ke SD Negeri 6 Bunutan bersama rekan-rekannya.

Pada pagi dini hari, Marianta melangkah bersama rekan-rekannya melewati jalan menanjak dengan medan terjal. Sisi kanan kiri jalan ada jurang yang diselimuti kabut.

Marianta dkk harus berhati-hati melangkah agar selamat tiba di SD Negeri 6 Bunutan.

Saat ditemui di SDN 6 Bunutan, Senin (1/4), Marianta mengaku saban hari harus berjalan kaki sejauh 20 kilometer pulang pergi. Perjalanan itu menghabiskan waktu 6 jam.

“Berangkat ke sekolah jam 05.00, sampai di sekolah sekitar jam 08.00,” ungkap Ketut Marianta.

Selama perjalanan keringat pun membasahi baju seragamnya. Sesampai di sekolah Marianta harus istirahat sejenak demi mengeringkan seragam.

Setelah itu Marianta bersama rekannya mengikuti pelajaran seperti siswa umumnya.

Anak keenam dari pasangan Ni Nyoman Sudiasih dan I Made Mastika menjalani ini untuk memperoleh ilmu pengetahuan sekaligus membahagiakan orang tuanya.

Jalan terjal dan jauh tak menjadi hambatan baginya untuk meraih cita-cita.

Kepala SDN 6 Bunutan, Wayan Dauh Suyasa, mengapresiasi kegigihan Ketut Marianta bersama rekannya.

Suyasa baru tahu Marianta bersama rekannya berjalan kaki sejauh itu setelah mengikuti mereka dari sekolah sampai rumah.

“Saya jadi kepala sekolah dari tahun 2017. Sejak tahun saya melihat Marianta bersama rekannya sering terlambat datang ke sekolah. Setelah saya investigasi, ternyata jarak rumahnya ke sekolah jauh. Lelah betul saya investigasi,” kata Dauh Suyasa.

Dauh Suyasa memberikan dispensasi kepada Marianta dan rekannya. Biasanya Mariata dan rekan tidak mengikuti pelajaran pada jam pertama.

Para guru memberi apresiasi mengingat semangat dan kegigihannya menuntut ilmu sangat tinggi.

“Jumlah siswa yang berjalan bareng rombongan Marianta sebanyk 19 orang. Siswa disini termasuk gigih. Semangat untuk belajar cukup tinggi. Dulu pernah ada siswa yang digigit ular saat perjalanan ke sekolah” ungkap Dauh Suyasa.

Menginap di Rumah Teman
Selama masa pemantapan di sekolah, Ketut Marianta terpaksa menginap di rumah teman, Gede Subang Sucipta.

“Mulai Minggu saya menginap di rumah Gede Subang Sucipta biar bisa (ikut) ujian pemantapan,” kata Marianta.

Bocah berperawakan kurus ini menginap di rumah temannya agar bisa mengikuti ujiian pemantapan tepat waktu.

Jika berangkat dari rumah kemungkinan besar terlambat tiba di sekolah. Dia membawa bekal berupa jagung dan mentimun.

“Saya berterima kasih ke Gede yang menerima nginap di rumahnya. Setelah ujian pemantapan saya kembali lagi ke rumah sambil bantu orang tua mencarikan rumput untuk ternak,” demikian Marianta.

Sumber: tribunnews.com

Leave a Reply